Beranda » Cerita Nusantara » Petualangan Si Petani Meraih Cita-cita

Petualangan Si Petani Meraih Cita-cita

Arsip

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.226 pengikut lainnya

news_70Suatu hari ada seorang pemuda bernama mamat, dia adalah anak seorang petani biasa di sebuah desa. Dia tinggal di sebuah gubuk kecil di desa nya. Dia punya cita-cita untuk menjadi seorang TNI (angkatan darat). Saat ini ia sedang duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Setiap pagi hari ia selalu pergi ke ladang untuk mengantar makanan untuk ayahnya yang sehari-hari bekerja di ladang.

Pagi itu ia berbincang dengan ayahnya
“Ayah, aku ingin menjadi seorang TNI angkatan darat saat sudah besar nanti”.
lalu ayahnya menjawab pendek… “Benarkah itu nak?”.
“Tentu ayah!!” sahut si mamat. Si ayah hanya diam dan meneruskan pekerjaan nya… Dalam pikiran nya sendiri ayah mamat berfikir “cita-cita yang bagus nak, tapi kan ayahmu ini hanya petani ladang”.

Pagi ini mamat siap berangkat ke sekolah dengan penuh semangat… Sebelum berangkat ia selalu berdiri di depan cermin lemarinya untuk menyisir rambutnya serapi mungkin. Di sekolah ia tak lupa memberi salam pada guru-gurunya di sekolah. Dia selalu bertanya bila gurunya memberi kesempatan bertanya. Setiap waktu ia membaca buku pelajaran.
“Ngapain sih kamu bawa buku terus?” Si didit bertanya padanya…
Lalu mamat menjawab “Buku ini kan jendela dunia…”.
“maksud nya mat?” Sahut didit.
“Dari buku ini aku bisa tau apa yang tidak aku tau, dan dunia ini banyak yang tidak aku tahu” ujar mamat…

Bel istirahat telah tiba… Semua anak-anak keluar dari kelas menuju kantin sekolah. Hanya si mamat yang ada di kelas, di buka tas nya perlahan. Lalu ia buka bungkusan yang tadi pagi telah disiapkan oleh ayahnya. Bukan karena ayahnya pintar memasak, tapi karena ibunya pergi ke luar negeri menjadi TKW. Ternyata siang itu ayahnya memberi bekal ubi goreng dengan parutan kelapa. Dengan lahap ia menyantap ubi goreng itu.

Bel tanda pulang berbunyi. Mamat bergegas pulang ke rumah, menyiapkan segelas teh hangat untuk ayahnya.
“Ayah pulang nak…” kata si ayah.
“Masuk lah ayah, biar ku bawakan sepedanya” sahut mamat. Kemudian ayah duduk di ruang tamu menikmati secangkir teh buatan mamat. Saat itu mamat sedang berkemas menata buku-buku pelajaran ke dalam tas.
“Mau kemana lagi kamu nak?”.
“Pergi untuk bimbingan belajar yah…”.
“tapi ayah tak punya uang untuk membayar bimbingan belajar mu”.
“Tenang ayah, bimbingan ini gratis kok” jawab mamat tenang.

Di kelas bimbel nya itu mamat terbilang paling rajin, ia selalu datang lebih awal dari teman-teman nya. Soal prestasi ia hanya kalah dari siswi perempuan yang memang berasal dari keluarga yang mampu. Mampu untuk memberikan segala kebutuhan pendidikan anak nya. Tapi hal ini tak membuat si mamat patah arang untuk jadi yang terbaik. Ia selalu berpikir bahwa aku harus bisa lebih pintar dari dia walaupun aku anak petani.
Guru bimbel nya juga tau betul bahwa si mamat ini ibarat pepatah jawa “bathok bolu isi madu”. Yang artinya didalam sebuah kesederhanaan penampilan nya terdapat sesuatu yang berharga. Tak hanya itu, tekad mamat untuk belajar pun sangat hebat.

“Mat, ini bapak kasih soal soal tambahan buat kamu, kerjakan saja di rumah, besok kamu kumpulkan ya” kata guru bimbelnya…
“Iya pak, akan saya kerjakan semuanya” sahut mamat.

Jam menunjukan pukul 4 sore. Saatnya pulang, sebenarnya mamat ingin pulang bersama teman-teman nya. Akan tetapi dia punya keinginan untuk membeli seragam SMP nya nanti dengan uangnya sendiri. Sore itu mamat mengayuh sepedanya menuju tempat penggilingan padi dengan tergesa-gesa. Segera ia menyapa mbah Gimin

“mbah, berapa karung yang dijemur hari ini”. Yap, mamat bekerja sampingan membantu tukang jemur padi di penggilingan untuk mengemas padi yang sudah dijemur. “ada 11 karung hari ini mat, ayo kita kemas nanti keburu hujan”.

Dengan penuh semangat mamat mengemas padi ke dalam karung yang sudah disiapkan. Tetesan keringat memebasahi wajah mamat, mengalir dari sela kedua matanya. Sesekali mamat menggaruk badan nya, karena memang debu dari padi yang dijemur akan membuat kulit tersa gatal. Mamat menyelesaikan pekerjaannya pukul 5 sore dan memerima upah dari mbah gimin. Lalu ia bergegas pulang karena takut jika nanti ayahnya akan mencemaskannya jika terlambat pulang.

Setiba di rumah ia memasukan hasil jerih payah nya sendiri ke dalam celengan. Jangan berfikir kalau celengannya terbuat dari gerabah yang berbentuk kendi atau celengan dari plastik berbentuk ayam jago. Celengannya hanya terbuat dari sebatang bambu, kemudian ia lubangi tengah ruas nya dengan gergaji sesuai ukuran uang receh. Kemudian mamat bergegas mandi. Jangan pikir kamar mandinya dibuat dari bak semen dan menggunakan gayung. Disana hanya ada pengaron besar dengan batok kelapa sebagai gayung nya. Untuk mendapatkan air ia harus menimba dari sumur. Saat malam tiba mamat selalu belajar. Bukan dengan cahaya lampu PLN tapi dengan cahaya lampu petromax tua milik ayahnya. Sebenarnya sudah ada aliran listrik di desa nya, tapi karena faktor ekonomi keluarga lah yang menjadikan petromax sebagai teman belajarnya. Dalam pikirannya mamat berpikir aku juga bisa belajar walau tanpa listrik. Dikerjakan semua soal-soal latihan yang diberikan guru sekolahnya, tak lupa juga soal-soal dari guru bimbelnya. Seperti basanya ia tak pernah berhenti untuk menulis, membaca dan berhitung saat belajar. Setelah selesai belajar mamat pergi tidur.

Keesokan harinya mamat berangkat sekolah seperti biasanya. Kemudian di tempat bimbel mamat menyerahkan semua soal-soal tambahan dari gurunya.

“Pak, ini tugas yang bapak berikan kemarin, sudah saya kerjakan semuanya…”
“Coba bapak lihat. Hem… Bagus mat, kamu mengerjakan dengan cermat dan semua jawaban mu benar.”
“(sangat senang) Benarkah itu pak?”
“Benar, tapi jangan puas dulu. Kamu harus tetap giat belajar supaya hasil ujian mu memuaskan.”
“Siap Pak!!!” Sahut mamat.

Dengan keseharian seperti itu, tak terasa seminggu telah berlalu. Singkat cerita mamat mulai berpikir, kalau cuma bekerja di penggilingan tak akan cukup untuk membeli seragam SMP nya.

Saat itu hari minggu tiba, ia pergi ke rumah tetangganya untuk berjualan es keliling. Dengan sebuah termos berisi beberapa es lilin ia mulai berkeliling dengan sepedanya…

“Es lilin, ada rasa sirsak, ada rasa jambu… Ayo beli es…”
Suaranya meneriakan dagangan nya di tengah siang yang sangat terik… Saat itu sudah pukul 11 siang. Belum satu pun es nya yang terjual. Mamat duduk di bawah pohon asam jawa. Dia membuka termos yang dibawanya. Dia memandangi es yang ada di dalam nya. Sepertinya rasa hausnya akan terobati saat meminum satu saja es itu.

Tapi mamat tidak tergoda. Dia menutup lagi termosnya, lalu melanjutkan berkeliling dengan sepedanya. Di jalan dekat sawah ia melihat sekumpulan orang-orang yang sedang panen di sawah. Mamat segera bergegas kesana…

“Sudah waktunya istirahat, minum es dulu pak, buk, biar segar… Ada rasa sirsak dan juga jambu…” tawar si mamat.
“Sini nak, aku ambil 20 ya…” jawab salah satu orang disana.
Mamat tersenyum “Terima kasih ya buk…” berdiri lalu memberikan beberapa es lilin, dan mulai mengayuh lagi sepedanya
“Es lilin, es lilin, rasanya enak, ayo dibeli…” teriak mamat.

Kini mamat mulai meninggal kan area persawahan. Tiba lah ia pada jalan yang mulai menyempit. Jalan yang tadinya diaspal kian lama menjadi jalan setapak biasa. Jalan yang tadinya begitu panas, kini menjadi agak teduh karena banyaknya pepohonan yang begitu rindang di sekitar jalan.

Di ujung jalan itu mamat melihat jembatan yang sempit, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Mamat berhenti sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menyeberangi jembatan itu. Di sisi seberang sana terlihat bapak-bapak sedang mencari rumput. Ia memegang sabit dan menggunakan tutup kepala dari rajutan bambu.

Dengan hati-hati mamat menyeberangi jembatan itu. Selangkah demi selangkah ia menjejakan kaki nya. Tiba tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh ke air.
“Byuuurrr…”

Pencari rumput yang tadinya asyik dengan pekerjaannya kemudian berdiri. Dia mencari sumber suara aneh tadi. Dia menoleh ke kanan dan kiri, seperti ada gelembung-gelembung udara yang keluar dari dalam air. Tiba-tiba ada kepala dan tangan seorang bocah yang sedang memegang erat temos plastik.

“Tolong… epfh.. tolong saya tidak bisa berena…nghh” teriak mamat.

Dengan bergegas pencari rumput itu membuang sabit dan tutup kepalanya. Kemudian ia terjun ke sungai untuk menyelamatkan si mamat.
“Tunggu, saya datang, jangan panik nak…” sembari berenang mendekati si mamat yang hampir tenggelam di sungai

Pencari rumput membawa mamat yang memeluk erat termos ke pinggir sungai, lalu menariknya ke atas jalan. Dengan susah payah bapak separuh baya itu kembali ke sungai lalu mengambil sepeda si mamat.

Setelah bapak itu sampai di atas jalan, ia mulai menanyai si mamat…

“Nama mu siapa nak, dan apa yang kamu lakukan di sungai dengan sebuah termos di pelukan mu?”
“Nama saya Mamat pak… Saya tadi ingin menyeberangi sungai, tapi malah terpeleset. Terima kasih ya pak, sudah menolong saya…”
“Sama-sama nak, lalu termos itu untuk apa?”
“Ini termos berisi es lilin tadinya pak, saya berjualan es ini keliling”
“Lalu kenapa anak seusiamu malah berjualan di hari minggu seperti ini?”
“Saya berjualan untuk menabung, supaya bisa beli seragam SMP saya nanti dengan usaha saya sendiri pak…”
Pencari rumput geleng-geleng kepala “Ckckck… Kamu memang hebat nak, seandainya aku punya anak sepertimu. ”
“Saya cuma anak biasa pak, yang ingin meringankan sedikit beban ayah dan ibu saya…”
“Baiklah, sekarang sudah sore, lekaslah pulang, nanti kau bisa masuk angin nak, apalagi sebentar lagi hujan akan turun…”

Dengan wajah lesu, mamat menuntun sepeda nya. Menuju jalan untuk pulang, tapi ia juga bingung bagaimana ia menjelaskan kepada tetangga nya nanti. Apakah tetangganya akan percaya kalau ia benar-benar terjatuh ke sungai.

Di tengah jalan ia bertemu seorang laki-laki berumur 35 tahun, membawa tas jinjing mengenakan kemeja rapih, serta sepatu kulit yang mengkilap karena disemir.

“Pak, mengapa bapak terlihat kebingungan?”
“Ohh, iya… Saya baru kehilangan sesuatu di sekitar sini nak… Lalu kenapa kamu basah kuyup seperti itu?”
“Ceritanya panjang pak, oh iya memangnya bapak kahilangan apa barangkali saya bisa membantu mencari nya?”
“Saya baru kehilangan cek yang jatuh dari map ini nak…”
“Baiklah, akan saya bantu mencarinya…”

15 menit sudah mamat mencari, di antara semak belukar, di balik pepohonan, dan belum ketemu juga apa yang mereka berdua cari. Tiba-tiba mamat melihat ke arah got, dan di atas batu di tengah aliran got itu ada kertas berwarna merah jambu dengan pinggiran yang mengkilap.

Segera mamat terjun ke dalam aliran got itu, dan mengambil secarik kertas yang mencurigakan tersebut.

Mamat memberikan kertas yang ia pungut tadi “Kertas inikah yang bapak cari dari tadi?”
“Oh iya nak, betul sekali. Bagaimana bapak berterimakasih padamu nak…” mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah dan memeberikan nya ke mamat
“Ini apa pak, saya tidak bisa menerimanya”
“Terimalah nak, bapak ikhlas memeberikan nya untuk mu”
“Tidak, saya ikhlas menolong bapak, karena saya juga baru saja ditolong orang hari ini…”
“Baiklah, siapa namamu, dan dimana kamu sekolah nak?”
“Nama saya mamat, saya sekolah di SD satu-satunya di desa ini pak…”

Tak lama setelah itu, mamat pamitan untuk pulang. Diam-diam pegawai bank tadi mengikuti langkah si mamat menuju ke rumah. Dia terkejut melihat rumah mamat yang amat sangat sederhana sekali.
Setelah kejadian itu mamat menjalankan aktifitasnya seperti biasa.

Tak terasa 4 minggu telah berlalu semenjak kejadian itu. Mamat sudah melewati Ujian Nasional, dan tinggal menunggu pengumuman nya saja… Dan tibalah hari itu, hari pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SD. Dengan percaya diri mamat berangkat ke sekolah. Di gerbang sekolah ia bertemu didit…

Didit merangkul pundak mamat “Selamat ya mat, kamu memang hebat!!!”
“Hebat apanya dit? Aku bingung…”
“Selamat mat, kamu memang super banget pokoknya…!!!”
Mamat bergumam “Hari ini semua orang aneh…”

Mamat berjalan di lorong-lorong SD nya, menuju papan pengumuman. Diasana riuh sekali, ada yang menangis, ada yang melompat-lompat, ada yang berteriak kegirangan. Dan ketika mamat bergabung dengan kerumunan itu, semua teman-teman nya yang ada disana datang menghampirinya, memberi pelukan, pujian, ucapan selamat.

Lalu saat ia mencari namanya, dan ternyata hasilnya amat mengejutkan, dia mendapat 10 untuk semua mata pelajaran. Tanpa tersasa air mata mamat mengalir dari kedua mata nya. Dia tak bisa berkata apa pun saat itu.

Setelah 4 hari berselang pendaftaran SMP mulai dibuka. Sebenarnya mamat ingin sekolah di SMP yang lebih besar, lebih modern, tapi tempat nya di kota. Dan tentu tidak mungkin untuk anak petani sepertinya. Lalu dia memilih sekolah SMP negeri yang lumayan bagus di kabupaten tempat nya tinggal.

Dia ingat belakangan ini sudah menabung, lalu ia keluarkan semua uang tabungan nya. Dan sial nya uang itu masih belum cukup untuk membeli seragam SMP yang dia inginkan. Tapi ia gunakan uang itu untuk biaya administrasi pendaftaran siswa baru.

Saat pendaftaran selesai, semuanya mengumpulkan biaya untuk membeli seragam. Mamat hanya duduk di pojok ruangan, menutup wajahnya dengan telapak tangan nya dan tertunduk.

Tiba-tiba dari pintu masuk terdengar suara ketukan pintu…

“Selamat siang pak, maaf… saya mencari anak saya pak…”
“Silahkan bapak, ma af… nama anak bapak siapa?”
“Nama nya Mamat pak…”
“Panggilan…. kepada saudara mamat ditunggu ayah nya di depan pintu… terima kasih…”
Mamat membuka kedua tangan dari wajahnya, dan bergegas menuju pintu
“Ada apa yah, kenapa menyusul kemari?”
Ayah memeluk mamat dengan mata berlinang air mata “Kamu memang anak kebanggaan ayah nak…”
“Ada apa yah, kenapa tiba-tiba ayah berkata begitu?”. “Sudah lah yah, aku tau kita tak punya cukup uang untuk membeli seragam ku, tapi yakinlah kalau akan ada jalan dari Tuhan nanti…” sahut si mamat.
Ayah memegang kepala mamat dan mengusap rambut nya
“Solusinya sudah disini nak, lihatlah ke arah kanan…”

Di kursi sebelah kanan telah duduk seorang laki-laki dengan penampilan rapi, yang sepertinya mamat pernah bertemu orang ini. Dengan perlahan ia menghampirinya. Ternyata dia adalah laki-laki pegawai bank yang pernah ia tolong satu bulan yang lalu. Dia menemui mamat untuk menyerahkan sebuah amplop coklat, dan memebawa map hijau. Dia bilang uang di amplop itu untuk uang gedung, dan map hijau itu perjanjian tentang beasiswa yang akan diterima oleh mamat dari SMP sampai SMA.

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: