Beranda » Artikel bebas » Cerita Miring Di Gunung Kemukus

Cerita Miring Di Gunung Kemukus

Arsip

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.227 pengikut lainnya

images (4)Warung. Warung-warung yang ada di gunung Kemukus  rata-rata hampir sama. Bangunannya sederhana. Terbuat dari kayu dan sebagian dari tembok.  Dilihat dari bagian depan, warung tersebut terlihat kecil saja, lebih kurang hanya berukuran 4 kali 4 meter. Setiap warung ini memiliki satu ruang pintu menuju ke belakang. Akan tetapi dari satu pintu itu akan ada pintu-pintu yang lain di belakang, kira-kira enam sampai sepuluh kamar kecil berukuran 3 kali 3 kamar. Yang hanya  memiliki perlengkapan sebuah sebuah kasur dan bantal.
Dari luar, masing-masing warung ini hanya berjualan minuman dan  makanan. Baik minuman botol seperti coca-cola, sprite dan semacamnya maupun minuman teh atau kopi. Namun di samping itu, setiap warung ini menyediakan penginapan dan perempuan perempuan juga.
Suasana warung ini rata-rata hampir sama,  di dalam warung tersebut, di samping pemilik warung yang akan melayani pembeli minum dan makanan, juga akan ada para perempuan-perempuan cantik dua atau tiga orang dengan dandanan cantik dan berpakaian seksi. Jika ada laki-laki yang masuk ke dalam warung tersebut maka perempuan itu akan menawarkan lebih dari sekadar minuman. …………

Bagi perempuan yang tidak duduk menunggu pelanggan di dalam warung, maka  mereka akan berjalan-jalan untuk menemukan mangsa mereka, ketika sudah menemukan maka akan dibawa ke dalam pintu-pintu kamar yang ada di belakang warung tersebut. Pada awalnya mereka akan merayu para laki-laki  “ngamar yuk mas”, setelah mereka mendapat maka mereka akan mengarak ke kamar warung . umumnya para perempuan ini adalah anak buah pemilik warung. Rata-rata lama mereka ngamar adalah 10 sampai 20 menit. Dengan bayaran 20 sampai 30 ribu atau tergantung nego.
Sementara bagi para peziarah perempuan. Kalau tidak membawa pasangan mereka dari rumah atau kampung masing-masing, mereka akan menemukan pasangan tersebut di kemukus. Masing masing akan melirik peziarah yang mondar mandir tanpa pasangan.
Aroma seks sudah tercium ketika kita memasuki gerbang Kemukus. Mulai dari tata gubug-gubug, dandangan para PSK, maupun tatapan para pria hidung belang menjadi gejala khas Kemukus. Salah satu peziarah yang berhasil ditanyai adalah Mas Fandi, dari Bekasi. Peziarah ini berkulit putih sehingga nampak sekali kalau dia seorang keturunan China, walaupun dia berasal dari Jakarta bukannya dari Tokyo.
“Mau nyekar mas?” saya mengawali pembicaraan.
Iya saya mau nyekar tapi belum ini baru liat-liat dulu tata caranya.
“lha kesini sudah berapa kali”
‘Baru sekali tapi kalau ceritanya sih sudah tahu dari dulu’.
“Tau dari siapa mas ceritanya?”
“Dari teman, ke sini saya juga sama teman saya itu. ‘
“Lha temannya mana mas?”
“Lagi tidur tadi, saya ajak jalan-jalan males, capek katanya.”
“kesini naik apa mas”
 “Naik bus, saya.”
“Sampai sini jam berapa mas?”
“Tadi malam jam tiga.”
“Nginep dimana  mas?”
“Di situ, di rumah temannya teman saya, kebetulan temen saya punya kenalan orang sini, katanya sambil menunjuk ke arah timur makam pangeran samudra.”
“Asli mana mas?”
“ Saya dari Jakarta.”
“Wuoh! Dari Jakarta! Kakek saya juga orang Jakarta mas, tinggalnya di warakas Tanjung Priok dekat pelabuhan, dulu kakek saya kerja di kapal dan mbah buyut saya juga kerja di kapal, cuman bukan kaptennya, yaa Cuma jadi kuli kapal tapi kalau mbah buyut saya kerjanya jadi koki.”
“Mas percaya ya dengan mitos Kemukus?”
“Yaa…saya percaya, kan namanya usaha, semua ngga ada salahnya harus dicoba.”
“Mau minta buat apa mas?”
“ Biasalah buat usaha, usahanya baru menukik,  katanya sambil menggerakkan tangannya kebawah seperti gaya ala presiden SBY ketika pidato’
“Punya usaha apa mas?”
“ Ya adalah!
“Bisnis ya mas?”
 “Nggak. Saya usaha kecil-kecilan. Katanya seperti terlihat merahasiakan pekerjaannya, karena itu saya tidak menanyakan lebih lanjut usahanya, mungkin dia malu karena barangkali ia bekerja sebagai penadah celana dalam beka, cuman kalau dilihat dari dandann nya sih kayak pedagang kelas menengah. “
“Kalau saya kerja di bengkel mas, cuman bukan bengkel mesin tapi bengkel body kentang magig, sama juga sekarang baru sepi, sebenarnya mulai sepi itu setelah krismon kalau sebelumnya bengkel bos saya itu rame banget.”
 “Di sini ceweknya gemuk-gemuk ya mas nggak ada yang muda STW semua”
“ Iya tadi saya liat-liat disana emang ngga ada yang muda, kebanyakan juga gemuk-gemuk ceweknya. “
“Sudah punya istri mas?”
“Sudah.”
 “Anak?”
“Sudah satu.”
“Istrinya tahu kalau mas datang ke sini?”
“Hwa…ya enggak lah bisa gawat ntar wong kesini sama aja selingkuh.”
“Kalau cewek sukanya yang kurus apa yang gemuk mas”
“Ya nggak kurus nggak gemuk yang sedang aja. kalau istri saya  kurus badannya.”
“Katanya kalau sama orang gemuk itu rasanya lebih enak ya mas…”
“Ya nggak juga, kalau di sini yang penting buat syarat saja, pernah saya mas di ajak teman saya tuh di puncak wuh! Ceweknya putih banget! Di sini bakul jamu juga ada yang jadi PSK lho, tadi saya ditawarin juga sama bakul jamu itu katanya kalau mau paling mahal dua ratus ribu, paling murah lima puluh ribu.”
“Lha sudah ngamar belum mas?”
 “Belum, ya liat-liat dulu. »
 “Sama saya juga liat-liat dulu nggak usah keburu-buru soalnya uang saya juga cupet je mas takutnya saya nanti nggak bisa pulang.”
“Saya mas uang saya juga mepet”
“ kalau di sini tuh harus hati-hati, kalau mau beli apa gitu tanya dulu berapa harganya, kalau nggak begitu nanti kalau habis makan pada seenaknya ngasih harga, apalagi kalau yang beli nggak bisa bahasa Jawa, kelihatan kayak bosa lagi, ya kayak mas itu.”
“ Iya mas, mahal di sini tadi saya beli kembang sama menyan tuh sepuluh ribu, tapi ya gimana lagi.”
“Kalau amplop buat juru kunci biasanya berapa ya mas?”
terserah sih kata temen saya biasanya lima ribu sampai dua puluh ribu, tapi sebenarnya itu seikhlasnya kok.
“Di sini tuh legalkan mas saya takut ntar ada razia!”
Oh nggak kok mas, di sini sudah legal kok.
  “legal ya, tapi takutnya lagi masalah penyakit ya mas.”
“Iya saya khawatirnya juga masalah itu. Mari mas.”
“Saya survey cewek yang daerah sana dulu.” Jawabnya sambil ngeloyor pergi
Saat itu malam Jumat saya sedang duduk melamun sendiri di kebun belakang makam. Meratapi nasib karena sampai sekarang belum pernah punya pacar. Kemudian datang PSK duduk disebelah saya dengan rambut dicat merah muka agak ancur hampir mirip kayak dorce dengan taktop lurik hitam putih, di tutup sweater abu-abu, sedangkan ukuran dada sedang.
 Perlu diketahui bahwa ukuran dada diperoleh sepintas bukan dari hasil memegang, tidak terjadi sedikitpun tindakan asusilan selama ngobrol dan selama obrolan berlangsung tidak ada sedikitupn adegan telanjang.
“Kok dewe mas. Kancane do neng ngendi.”
“ Mboh mau do lungo dewe-dewe.”
“Mas aku mbok njaluk rokoke. “
“Nyo! Nek doyan.”
“Rokok opoe kuwi mas.”
“Lodji, rokok gawean solo.”
“ Kok ngelamun wae mas, ayo kenthu karo aku wae.”
“Wah ora, urung wayahe, ning kene wae ngobrol-ngobrol.”
“Ben penak le ngobrol ning kamar wae mas. wah niat bahaya mengko. “
“Kowe seko ngendiye mbak?”
“Aku seko Semarang mas.”
„Ngebir-ngebir wae po mas ning warung tak kancani.“
“Wah  mabuk, mala raiso bali repot mengko.”
“ Wah sumuk banget, lha ket mau munggah midun undak-undakan kono kuwi opo (sambil membuka jampernya) lha, nek enthu karo kowe piro mbak? Seket wae mas.”
“Lha piye mas ayo kamar wae mas. “
“Wah iki durung wayahe je raoleh sembarangan wong aku yo durung nyekar barang.”
“  Oh kowe arep nyekar to mas, karang nek ngono ki iyo kepercayaan kok. Lho ming ngendi kancanku mau kok raono sik yo mas tak nggoleki kancaku raono je gek mengko wis payu. “
Setelah mewawancarai puluhan PSK (Pekerja Sex Komersial), kebanyakan di antaranya memiliki alasan yang klasik: mencari uang untuk menghidupi keluarga, karena ditinggal suami atau suamianya pengangguran. Ya, mereka juga sadar, bahwa pekerjaannya bertentangan dengan norma dan agama. Tapi, apa lagi yang harus dilakukan? Apakah mesti bunuh diri? Bunuh diri bukan akhir dari persoalan, melainkan awal dari persoalan yang sangat besar.
Alasan-alasan semacam itu sering membuat orang menjadi nyinyir. Namun, itulah alasan mereka yang sebenarnya. Mau kerja? Semua orang tahu, di Indonesia sulit mendapat pekerjaan. Kalau tidak sulit, mana mungkin TKI atau TKW berbondong-bondong meninggalkan tanah air, demi mencari pekerjaan sebagai buruh. Lulusan perguruan tinggi, kebanyakan mencari aman dengan bekerja menjadi PNS atau di perusahaan swasta. Hanya sebagian kecil, lulusan perguruan tinggi yang mengamalkan ilmunya untuk membuka lahan pekerjaan bagi si kecil.
Gunung kemukus sebuah bentuk ritual yang liar dan menurut bapak yanto yang berasal dari solo, Dia sengaja datang kekemukus bukan untuk Ziarah tapi mencari kepuasan seks, seperti dia bilang Uwong ki nek dikei jangan kui-kui wae yo jeleh to mas butuh selingan, yang artinnya orang kalu dikasih sayur itu-itu aja ya bosen kan mas.
 jadi perumpamaan diatas adalah dirumah hanya bertemu istri itu2 aja ya bosen maka dia mencari kekemukus untuk selinagn atau fariasi katannya. Setelah saya Tanya lebih jauh dengannya bagaimana cara transaksi dia jawab pasti ada wanita yang menghampiri apabila kita duduk sendirian tergantung kita memilih ada yang STW, atau setengah tua, ada juga yang ABG. Tarif juga tergantung dari 25.000 sampai 75.000 tergantung kitannya mau karaoke atau tidak atau Oral bahasa biologisnya, itu dikenakan biaya tambahan. Kebanyakan para lelaki hidung belang yang dating kesini tidak hanya sekali melakukan tapi bias dua kali atau lebih.
Yang selanjutnya adalah pendapat seorang tionghoa bernama pak anton yang berasal dari bandung, saya awalnya agak bingung kenapa si engkoh ini tidak membawa gadis untuk ritualnya dari daerah asalnya, secara kita semua pasti tahu dibandung pasti lebih cantik-cantik disbanding dikemukus, tapi si engkoh dengan santai menjawab
“Ngirit mas soalnya kan kalau bawa dari rumah boros pake acara ngasih makan kalo disinikan kita tinggal terima beres…”
 Dia juga bercerita bahwa dulunya kemukus tidak banyak warung atau pedagang nah mengapa jadi seramai ini katannya bahwa setiap PSK yang sudah didatengi Om2 jika omnya suka dan cocok maka ia hanya berhubungan dengan si Om tersebut lalu si Om memberikan usaha dengan membuatkan warung lalu kemudian si PSK tadi beralih profesi menjadi Mami atau Germo, begitulah seterusnya.
Malam itu sekitar pukul setengah sembilan ketika saya dan dua teman melewati beberapa tangga menuju sendang, tanpa saya sadari desebelah tangga tersebut ada sebuah warung dan terdengar suara perempuan memanggil dan mengatakan “mampir mas”, dan saat itu saya dan teman-teman untuk memutuskan mampir kewarung tersebut yang ternyata ada tiga wanita sedang bermain kartu remi di atas meja. Sambil memesan air kemasan dan saya mulai untuk berbasa-basi.
“namanya siapa mba?
“Tuti.” Jawabnya singkat
“ aslinya mana?”
“ bengkulu., kalau masnya dari mana?”
“saya dari jogja, kuliah mba.!!
“mba tau tentang kemukus dari mana?
“dari Koran.
“Ooh…emang ada?
“ya adalah mas.
“sebelum kerja di sini mba kerja di mana?
“saya kerja kerja di salah satu pabrik di Jakarta tetapi karena di PHK akhirnya saya “Dan saya sempat kerja di café di jakarta untuk melayani tamu tapi saya nggak betah.”
“lho kok ngk betah?? Bukannya gaji di café itu gede pa lagi di kota besar kayak Jakarta??” jawabnya  sambil heran.
“di sana kerjanya ngk bebas, selalu di paksa pali kalau pelanggan itu maksa saya untuk memakai obat-obatan (narkoba). Ngk kayak di sini saya bebas dan ngk ada tekanan dan paksaan.
“emang mba udah berapa lama kerja di kemukus?
“baru lima bulan mas.
“untuk tarif sex dengan mba berapa ya??
“tarif apa dulu mas permalam atau sekali kluar (sekali main).!!
“emang beda pa?
“bedalah mas. Kalau permalam 200 rb tapi belum masuk sewa kamar.
„emang sewa kamarnya berapa?
„30 rb ( sambil merayu saya untuk masuk ke kamar).
„kalo yang sekali main itu hitungannya gimana???
„ya hitungannya sekali keluar sperma mas.
„yang sekali main berapa emangnya??
„50 rb. Tapi itu belum termasuk sewa kamar juga, jadi kalo masnya mo sekali main ya 80 rb gt.
„ngomong-ngomong umur mba barapa sih?
„23 Tahun.
Pagi itu sekitar pukul 08:50 ketika saya duduk duduk di depan pintu di sekitar sendang, seorang pria berbadan tegap dan berpenampilan rapi mengenakan baju putih, kelihatan baru datang sambil membawa kembang dan beberapa amplop, dan akhirnya  duduk di sebelah saya.
“sendiri aja pak?”
“iya…”
„kenapa ngak langsung masuk sendang?“
“sebentar lagi.”
“asalnya mana pak? “
“saya Madura, kamu? “
“Jogja pak kuliah.”
“pekerjaan bapak apa?”
“distributor rokok untuk wilayah madura “  sambil melihatkan foto kantor tempat ia bekerja melalui hanphonenya.
“ngomong-ngomong sudah berapa kali datang ke sini pak?”
“sudah dua kali.”
“apa yang bapak harapkan dari kemukus ini?”
“dulu usaha saya sempat bangkrut dan saya kesini berharap supaya usaha saya maju. Tetapi sebenrnya mas ikut ritual ini tanpa usaha sama dengan “nol”. Jadi usaha juga sangat penting  “
“pasangan bapak mana? Bukannya tradisi di sini harus membawa wanita selingkuhan.”
“itulah saya udah nyari-nyari dia tetapi ngk ketemu-ketemu. Ternyata sulit juga nyari wanita yang benar-benar berziarah di sini.”
“nggak juga pak, biasanya yang bukan peziarah mereka-mereka yang berpenampilan mencolok.”
“saya itu ngk mau mas, nyari wanita yang pasrah untuk  di gituin tapi saya suka dengan mereka yang jual mahal.”
“jadi bapak udah pernah…..”
“sudah, sekali. Itulah saya cari-cari tadi kok ngk ketemu lagi yah “ sambil melihat kiri-kanan berharap bertemu dengan wanita yang di carinya.
“Sendirian dek? Tutur bapak yang usianya kira-kira 50 th.
“Eh iya pak…..
”adek dari mana? “
“Dekat sini saja kok pak. Bapak sendiri? “
“Saya juga orang dekat sini saja, solo dek.”
 “Bapak sendirian saja? “
“Nggeh….” rupanya pak wagiman ini masih sulit diajak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
“Dek sakestu piyambakan? “
”lha da pa to pak?”.
” Enggak…kayaknya saya sreg dengan adek, Gimana dek?. “
”Tunggu berapa waktu lagi ya pak, tampaknya masih terlalu sore”
”. O…..ya…kalok adeknya ga’ mau ya ga’ papa. “
“Santai saja pak, kita masih bisa ngobrol-ngobrol disini”.
“Bapak kagungan putro pinten? Heh kayaknya pak wagiman enggan menceritakanya…..
”anak saya 3 dek, yang besar sudah lulus”
” kelahiran tahun berapa pak anaknya? “
“Tahun ’86, “
”wah seusia saya dong pak.” Pak wagiman hanya menanggapi dengan senyum. ]
“Bapak sering berziarah ke mari? “
”Wah kalau saya hamper tiap minggu ke sini, yach dari pada nglamun di rumah ya ga’ dek?”
”oh iya pak……..bersama istri pak ga?”
“ lah…wong saya tu kesini ingin cari kesenangan, bagainana ceritanya nanti kalo istri saya ikut”
”.Tapi istri bapak tahu kalau bapak kemari? “
”Kayaknya sih tau…hehehe. Tapi di biarkan saja, paling mong ditakoni, arep neng endi “
“Pertama kesini yang penjadi penyuone njenengan nopo pak? “
“ya….pengen sugeh dek, bisa nyekolahin anak, makan cukup, ya seneng juga. Gini lo dek, orang hidup kan Cuma mampir ngombe (mampir minim), trus ya di buat seneng-seneng aja, jangan di buat susah, kalo Cuma nunggu istri dirumah, wah…cepet mati dek.hehehe. gimana dek, adek mau ga’ nemenin saya malem mini?“
”Hehehehe…saya masih capek e pak, baru ja sampek jam 19.00, saya masih mau di sini”
”. Adek masih perawan ya? Biasanya kalau masih perawan sekitar 300.000 sampai 400.000”.
” kalo mbak-mbak yang dandan menor itu biasanya berapa pak? “
”Yach paling mahal 50.000, biasanya sich 20.000. dah ma adek 500.000 mau ga’?”
” pak, saya masih sekolah, dan ga’ melakukan hal yang seperti itu”
”. O…jadi adek masih sekolah?berarti mahasiswi no? dek sekarang banyak juga mahasiswi yang pada jual diri di sini? “
”Masak iya sich pak? “
”Makanya, adek mau ya?….pak wagiman masih terus mendesak,
“ma’af pak saya kemari sama temen lelaki saya” sambil mencoba mengambil langkah seribu…kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
Lagi, Mas Antok yang kali itu datang bersama temanya Heru, pemuda yang mengaku berasal dari Sragen ini baru pertama kali mengunjungi makam pangeran samudra itupun setelah diajak oleh sahabatnya. Kunjunganya ke makan pangeran Samudra tidak lebih hanya sebatas ingin tahu dan refresing.
“Mas antok percaya ga’ dengan mitos pangeran samudra? “ tanyaku
”Percaya ga’ percaya mba’ tututrnya, ga’ percaya tapi banyak yang berhasil setelah pulang dari ziarah, percaya tapi saya masih punya keyakinan terhadap Tuhan.”
“ Mas sendiri barusan melakukan ritual ga’? “
”saya baru datang, dan hanya mau jalan-jalan saja”
”. Ya iyalah mas, kan di sini banyak mba’-mba’ yang cantik-cantik kan?
” Wah mba’ ni……cantik tapi barang second semua. Hehehe………” jawabnya sambil nyengir kuda
“Mereka kan cari uang mas? Sah-sah aja to?demi kelangsungan hidup mereka??”
”Memang cari pekerjaan sekarang sulit mba, tapi saya yakin masih banyak pekerjaan halal yang bisa dilakukan, tidak harus berbuat seperti itu. Kalau mereka ditanya memang kepentinganya uang, dan dorongan ekonomi, tapi terlepas dari semua itu mereka hanya mencari kesenangan, ya ma’af saja bilang “hubungan seks”
Lagi, ketemu dengan seorang wanita paruh baya, langsung saja diajak ngobrol
“Mruput bu?”
“injeh mba Sudah ke sendang? “
”Ya ni baru saja dari sendang, dan nunggu teman-teman saya yang juga mau ziaroh. Kalau boleh tau ibu dari mana? “
”Saya dari demak.”
” Lumayan jauh ya buk, jam berapa dari sana bu? “
”Subuh mba,biar ga’ terlalu panas. “
”Kok ibu sendirian aja? “
”lha sama sapa lagi mba?suami saya meninggal, anak saya sudah berkeluarga dan berdomisili di Gersik”
”. Ongkos transport Demak Sragen berapa bu? “
”Biasanya ya sekitar 20 ribu. “
”Ibu tau kisah gunung kemukus pertama kali dari siapa? “
”Banyak orang yang bilang mba, terutama teman-teman saya, kan waktu suami saya masih hidup, dan saya beberapa kali mendaftar pegawai negeri dan  belum di angkat menjadi pegawai, banyak yang menyarankan saya ke sini supaya saya diangkat menjadi guru Madrasah itu lo mba. “
”O….jadi ibu ni guru madrasah to? Sekarang sudah berapa kalinya ibu datang ke sini? “
”Dah lupa mba, dah sering saya kemari, dan sudah pernah tasyakuran karena pengangkatan saya itu. “
”Biasanya tasyakuranya punya ketentuan-ketentuan ga’ bu?, misalnya harus motong kambing dan ada syarat-syarat lainya. “
”Enggak kok mba, tasyakuran ya semampunya, se ikhlasnya, saya dulu motong kambing lo mba…ada yang motong kambing, sapi, ayam, telur pun ada.
“Kalau menurut versi ibu sendiri, dari ritual ini sebenarnya buat apa sich? “
”Ya disini saya matur lewat kiyai samudra apa yang menjadi hajat saya, gini lo mba, kalok mba ini anak kesayangan orang tua mba, pasti kalo minta apa-apa di turuti, ketimbang dengan saudara mba yang lain. Sama halnya dengan pangeran samudra ini, kalok kita minta ke gusti melaului perantara pangeran samudra yang menjadi hamba kesayangan pasti lebih di utamakan, iya to? “
”Iya juga ya bu….nah ibu percaya ga’ dengan sejarah yang mencatat bahwa pangeran Samudra tu selingkuh dengan ibu tirinya?. “
”Itukan cerita mba, banyak juga cerita lainya yang saya terima, dan cerita-cerita itu bisa dikarang semau udel orang yang ngarang. Kalo saya percaya dengan cerita bahwa memang ibunya pangeran Samudra ke mari karena tau pengeran Samudra di Gunung Kemukus bukan karena telah berselingkuh, dan ibunya meninggal disini, tapi itu lo mba, yang sampai sekarang tidak diketahui makam sang ibu pangeran Samudra itu ga’ ada, jadi berita yang disebarkan ya ibunya hilang dan tidak diketahui oleh siapapun, tapi para kuncen bilang kalau makam ibu pangeran samudra jadi satu dengan makam pangeran samudra.”
” Kalo kita soan ke makamnya ya berarti soan ke makam ibunya juga. Gitu ya buk……..”
“Dari cerita yang simpang siur itu banyak yang menganggap bahwa pangeran samudra berselingkuh dengan ibu tirinya, lantas sekarang banyak warung-warung yang menyediakan fasilitas plus, menurut ibu pripon?”
” dulu perama kali saya kesini belum ada tuh mba yang kayak gitu-gitu. Cuma sekarang memang banyak yang melakukanya, kalo saya ga’ kok mba….selama berziarah saya ya suma melakukan ritual seperti itu, jijik rasanya, bayangin coba’ mba’ kita berhubungan badan dengan orang yang ga’ kita kenal.? “
“Heheheh “ timpalku
”setelah suami saya meninggal saya bersikukuh untuk tidak menikah lagi.” Jawanya menyakinkan.
Setelah di kroscek dengan salah satu PSK di sana bu Dewi, ternyata ibu yang saya ajak ngobrol tadi merupakan salah satu sindikat PSK musiman yang tidak menetap, cerita tang dipaparkanya, omong kosong…..dan ketika pukul 22.30 terlihat ibu yang ngobrol tadi sedang bertransaksi dengan salah satu pengunjung. Waw…………
Pada tanggal satu Suro masyarakat setempat akan mengadakan ritual mandi selambu. Yaitu kelambu makam pangeran Samudro akan diarak menuju sungai dan dicuci. Arakan itu dibawa oleh para juru kunci dan para pemuka desa dengan menggunakan pakaian resmi Jawa. Setelah itu, selambu yang telah dicuci akan dibawa keatas cungkup lagi dan sobekan serta airnya akan menjadi rebutan bagi para peziarah karena diyakini mengandung berkah. Air bekas cucian selambu tersebut ada yang dibawa pulang , diminum dan disiramkan ke seluruh tubuh. seorang bapak yang memiliki profesi sebagai Juragan tebu -selalu memasok tebu ke pabrik-pabrik gula di Jogja dan Solo. Mendekati peneliti dan bertanya “dari mana mbak?”
 “saya dari jogja” jawabnya.
“Dengan siapa kesini?”
„bersama teman.“
“udah nyekar”
„belum pak. Sudah sering ke kemukus pak“
“sering, setiap jumat pon dan jumat kliwon, adik sendiri”
„saya baru kali ini, udah nyekar pak“
“sudah, adik?”
‘saya belum, masih ramai, biar liat-liat dulu’
“ayo nyekar sana, biar saya temani”
‘oh, ntar saja pak, oh ya pak.’
“kesini harus punya pacar lho dek?”
“oh iya pak. Mang kenapa tu pak”
“ya, agar makbul segala permintaannya”
“trus bapak pacarnya mana”
“belum ada, ini masih liat liat”
“memangnya pacar itu harus dibawa dari rumah atau di temukan disini “
“ya terserah, tapi lebih baik di sini, dengan perempuan yang sama tujuannya sama sama ingin sukses. Misalnya saya dengan adek janjian. Seandainya salah satu dari kita sukses maka harus bantu.”
“Harus mesti sama profesinya pak. “
“Tidak, Misal ade ingin lulus ujian dan saya sukses bedagang”
„Mang istri bapak tahu bapak ke sini.“
“Tidak”
„Trus bilang mau izinnya tadi gimana“
“Ya saya kan pedagang, jadi sudah sering keluar kota, izinnnya ya keluar kota”
„Mang kenapa harus ke kemukus pak“
“Ya kan deket, sambil minta berkah pada pangeran samudra, Saya kesini mau cari hiburan, saya sering stress. kalau sudah liat cewek cantik saya bisa melupakan masalah saya sejenak”
„trus bapak kenapa nggak senang senang dan cari hiburan“
“adek ini giman, ngomong ma adek saja saya sudah senang dan sudah terhibur”
„mang apa yang bikin stress pak“
“ya, Kalau pedagang itu, sering stress, anak buah ga becus banyak yang ngutang dan bahkan bangkrut. Hati hati dek, disini banyak buaya darat”
„bukan buaya darat aja pak, kadal sungai juga ada, tu cewek cewek cantik yang jadi kadal sungainya.“
„Emang harus cewek yang bikin tenang dan bisa ngilangin stress“
“Gini ya dek, seandainya semua laki-laki mau jujur, pasti sama dengan saya, ingin cari hiburan dengan cewek cewek cantik.“ Jawabnya sambil tertawa nyengir
Pasangan suami istri dari Sringen berjualan aksesosiris. Selalu datang ke Kemukus setiap Jumat pon dan Kliwon.
Bapak sambil jualan juga ziarah?
“Saya ga pernah, ya kepercayaan orang beda-beda kan mbak, saya hanya percaya pada allah Apalagi syarat harus datang dengan selingkuhan, wah itu sudah tidak benar, sudah diluar ajaran agama.”
Kalau menggelar dagangan dipungut biaya nggak pak?”
 “iya seribu kadang dua ribu, oleh pengawas keamanan, ya nggak apa-apalah”
Kalau karcis
“Tidak, karena pemerintah pariwisata kemukus dengan sringen sudah saling kerjasama, jadi sudah sama sama tahu, kalau kami yang kesini , tidak dipungut biaya dan jika orang kemukus yang kesana juga tidak di pungut biaya.”
Bagi para peziarah yang percaya kepada mitos seks kemukus bahwa saah satu persyarat makbulnya permintaan di Kemukus adalah melakukan hubungan seks dengan selingkuhan maka mereka akan mencari pasangannya masing-masing.
Salah satu cara adalah janjian lewat hp , mereka mengenal istilah “ngebel”  mereka janjian kapan mereka datang ke kemukus dan saling kontak lewat hp.
Ketika sampai di kemukus mereka akan saling kontak lagi dan mencari tahu siapa yang ngebel.
Suatu siang tiba tiba Ibu –Ibu dengan wajah tergesa gesa mbertanya pada laki-laki di samping saya “bapak yang namanya K ”bapak itu menjawab “bukan”lho siapa yang namanya k “ dengan wajah cemas
Di dekat sendang seorang kakek yang dari logat bahasanya berasal dari sunda sedang ngobrol ketawa ketiwi dengan orang-orang yang ada di warung. Lalu tiba-tiba datang seorang perempuan gemuk dengan dandanan menor sambil memeluk-meluk si kakek dengan manja memanggil abah. Setelah beberapa menit saling cubit, saling peluk dan saling pegang, sang abah mengeluarkan uang selembar 50 ribu.
Si erempuan ‘alhamdulillah, rejeki ya bah” sambil ketawa kesenangan.
Beberapa hari ini kami berada dilokasi Gunung Kemukus, tepatnya di daerah Sragen, Jawa Tengah. Tiap waktu kami gunakan untuk mencari data yang berkaitan dengan apa yang kami kaji. Sungguh hal yang penuh tantangan bagi kami karena baru sekali ini terjun dalam bidang (penelitian) seperti ini. Pencarian data yang melingkupi cungkup, sendang, warung, tempat retribusi, dan tempat-tempat lainnya membuat kami kelelahan. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk menikmati apa yang ada disekeliling Gunung Kemukus di waktu sore. Hanya untuk refreshing pikiran yang sudah menumpuk dalam pikiran karena sudah mulai masuk dalam aluran kehidupan Gunung Kemukus. Di sisi luar komplek Gunung Kemukus terdapat panorama alam yang elok dan memanjakan mata. Gemercik air aliran sungai, pemandangan bukit yang memukau, dan hijaunya tumbuhan jagung dan sayuran lainnya menambah elok pemandangan di luar sisi komplek Gunung Kemukus. Rasa lelah pun seakan lepas dari tubuh dengan suguhan pandangan alam nan mempesona tersebut yang kami nikmati pada sore hari di Kemukus.
Menjelang senja, kami dikejutkan dengan munculnya sepasang pria dan wanita muncul dari semak-semak pohon jagung, tepatnya dari bawah jembatan menuju Gunung Kemukus. Positif thinking kami mengira bahwa itu adalah pasangan suami-istri yang telah selesai bercocok tanam sore itu. Dari tempat kami duduk yang kira-kira seratus meter dari mereka, kami memperhatikan langkah mereka yang menuruni jalan setapak menuju bibir sungai. Setelah tiba dibibir sungai, si wanita berhenti. Kami kira mereka akan membasuh tangan dan kaki mereka setelah dari ladang. Tetapi yang terjadi adalah si wanita menanggalkan seluruh pakaiannya dan meletakkan diatas batu. Kemudian mandi dengan air sungai tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Yang lebih menggairahkan adalah si wanita ‘cawek’ juga menggunakan air sungai tersebut. Padahal kalau dipikir, yang dibersihkan adalah organ paling vital yang dimilikinya dan kaum wanita lainnya. Apakah wanita tersebut tidak memikirkan kebersihan air dan organ kewanitaannya? Hal serupa juga dilakukan oleh si laki-laki. Dia juga mandi disungai tanpa sehelai benang yang menutupi badannya. Mereka tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Mata-mata liar memandang tubuh bugil yang sekiranya dapat membangunkan gairah mata laki-laki yang memandangnya.
Banyak orang yang melihat peristiwa yang menggiurkan tersebut. Kami, para petani, bahkan orang yang lewat diatas jembatan diatas sungai pun juga ikut melihat. Sampai-sampai orang yang membawa kendaraan menghentikan laju kendaraan mereka hanya untuk melihat tubuh-tubuh polos itu yang basah karena mandi disungai tanpa tedeng aling-aling. Selepas mandi kemudian mereka berjalan keatas menaiki jalan setapak menuju komplek Gunung Kemukus. Kami hanya duduk terdiam menahan tawa, kaget dan perasaan lainnya ketika mereka berjalan didepan kita dengan santai dan cueknya. Dan tampaknya mereka cuek saja dengan apa yang telah mereka lakukan dan di tonton banyak orang.
Menjelang magrib ketika kami memutuskan untuk pulang kepondokan menginap, dikejutkan lagi dengan pemandangan yang lebih ‘hot’ dari apa yang kami lihat sebelumnya. Ternyata bibelakang kami duduk tadi banyak laki-laki dan perempuan yang mandi bersama di mata air yang terdapat dibibir sungai. Bahkan mereka tampak asyik-asyik saja dengan mandi bugil bersama mereka. Tidak jarang mereka terlihat saling bahu-membahu membersihkan badan teman mandinya. Hal itu membuat kami semua berhenti sejenak untuk menelan ludah yang sudah membasahi mulut dari tadi. Pemandangan senja yang penuh dengan eksotisme lekukan tubuh yang dibungkus dengan basuhan air sugai membuat kerasan siapapun yang melihatnya.
Tidak jauh dari tempat mereka mandi bugil bersama, juga terdapat aktifitas biasa layaknya penduduk desa pada umumnya. Ada yang membersihkan ladangnya, mencuci disungai, dan juga ada yang buang hajat dibibir sungai. Dan mereka semua cuwek dan seakan-akan terbiasa dengan pemandangan tubuh-tubuh polos yang sedang berbasah-basah rai tersebut.
Malam itu kebetulan adalah malam jum’at pon yang merupakan malam puncak ritual dalam selapan hari. Jadi akan ada banyak sekali pengunjung yang berziarah di Gunung Kemukus. Dan pada saat itu memang terlihat sudah banyak pengunjung yang mulai memadati jalan menuju makam Pangeran Samudro. Baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan. Entah dengan maksud untuk berziarah betulan atau hanya akan menikmati surganya seks yang ada disajikan disana. Setelah sholat isya, kulanjutkan perjalanan sendirian untuk mencari data tambahan dengan menyusuri warung-warung yang letaknya tidak jauh dengan bantaran sungai. Jujur saja, karena pada saat itu aku masih penasaran dengan apa yang aku dan teman-teman temukan sore harinya. Yaitu seks ecek-ecek. Maksudnya adalah melakukan hubungan seks tidak pada tempatnya. Artinya adalah melakukan hubungan badan ditempat-tempat yang tidak sewajarnya. Seperti yang kami temukan tadi sore, sepasang laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan seks di semak-semak pohon jagung.
“Mampir mas?”
Kagetnya bukan main ketika mendengar kalimat ajakan untuk singgah di warung dari seorang PSK. Karena saat itu aku sedang melamun. Ajakan tersebut terucap dari mulut PSK yang sedang mangkal di warung tersebut. Tentu saja dengan menggunakan pakaian yang dapat menggoda syahwat. Pakaian yang sangat seksi, ditambah dengan belahan dada dan kolam susu yang sangat ketara. Makhluk Tuhan yang paling seksi berkeliaran disana.
“Terima kasih”
Jawabku singkat, karena sedikit gemetar dan jujur saja karena masih kaget dengan pemandangan dadakan yang ‘hot’ tersebut.
Hal serupa juga terjadi disetiap warung yang terlewati. Aku pun juga menjawab dengan jawaban yang serupa juga. Hingga pada akhirnya saya berhenti didepan sebuah warung yang agak sepi pengunjungnya. Tanpa menunggu lama, muncul seorang PSK yang kebetulan masih muda. Ya kira-kira umurnya sekitar 19 tahunan. Tentunya juga menggunakan pakaian yang super ketat. Sehingga setiap lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas.
“Mari mampir, minum-minum mas!” katanya
Tanpa pikir panjang, aku pun langsung masuk warung tersebut. Karena pengen cepet-cepet dapat jawaban dari rasa penasaran. Mungkin saja PSK itu tahu.
“ Mau minum apa mas? ” tanyanya sambil memegang gelas.
“ Es teh adja mbak ” jawabku singkat.
“ Sendirian adja mas? saya Santi, asli Purwodadi ” katanya memperkenalkan diri sembari menyajikan es teh pesananku. Kemudian dia duduk disebelahku.
“ Iya ni mbak, sendirian adja. Nggak naik keatas mbak? “ tanyaku.
“ Nggak “ jawabnya singkat.
“ Kenapa? Males atau nunggu seseorang!? “ selidikku.
“ Iya nih mas lagi nunggu tamu lengganan. Diatas sudah ramai pho mas? “ tanyanya balik.
“ Yo nggak ngerti to mbak. Aku kan belum keatas. Harusnya mbak Santi dong yang lebih tahu! Kan sudah tahu adatnya sini“ jawabku pura-pura nggak tahu.
“ Biasanya sih kalau jam segini belum ramai. Paling bentar lagi, sekitar satu jam lagi “ memberitahuku.
“ Mau keatas pho mbak? “ tanyaku pengen tahu.
“ Nggak mas, udah punya langganan sendiri. Lagian kalau keatas capek, ntar kalau ketemu tamu harus balik kesini lagi. Mendingan disini nemenin Ibu “ jawabnya sambil melongok kedalam. Ibu yang dimaksud adalah germonya. Biasanya adalah pemilik warung dan layanan sewa kamar.
“ Biasanya kalau ‘main’ dimana adja sih mbak? “ tanyaku sembari malu-malu.
“ Main apa mas? Seks maksudnya? “ jawabnya dengan lantang tanpa rikuh.
“ Iya mbak ” jawabku singkat.
“ Kalau aku ‘mainnya’ harus dikamar. Nggak mau aku ‘main’ di bawah jembatan, pinggir kali (sungai), atau dibawah pohon sono “ jawabnya dengan polos, tanpa basa-basi.
“ Kalau bawah pohon biasanya disekitar cungkup mas. Di akar yang mlungkermlungker itu lho. Kan disana gelap tempatnya to mas “ jelasnya lagi
“ What? Emang ada mbak yang ‘main’ ditempat-tempat kayak gitu? “ tanyaku pura-pura nggak tahu. Padahal ini merupakan inti dari tujuanku mampir warungnya.
“ Ada no mas, tamukan mantepe beda-beda ” jawabnya menjelaskan.
Semakin menarik ini menurutku, karena sedikit demi sedikit rasa penasaran yang dibutuhkan sudah mulai terjawab.
“ Mantepe tamu, maksudnya mbak? “ selidikku sambil mengernyitkan mata.
“ Ada tamu yang berkeyakinan bahwa ngeseks di bawah pohon, pinggir kali, bawah jembatan lebih cepet memuluskan doa harapan mereka ” Santi menjelaskan.
“ Biasanya tamunya yang cowok atau yang cewek mbak? “ tanyaku pengen tahu.
“ Nggak mesti mas, kadang tamunya yang cowoknya atau kadang tamunya yang ceweknya “ jawabnya enteng.
“ Tapi biasanya yang ngeseks dipinggir kali, bawah jembatan, atau dibawah pohon biasanya tamu-tamu lama mas , yang sudah agak tua“ jelasnya lagi.
“ Kok bisa mbak Santi bilang bahwa yang ngeseks ditempat-tempat itu tamu-tamu lama? “ tanyaku ingin lebih jelas.
“ Mas, dulukan belum ada kamar-kamar kayak gini, jadi tamu-tamu itu ngeseks ya ditempat-tempat kayak gitu ” jawabnya sewot sambil menunjuk kearah kamar-kamar yang ada didalam warungnya mangkal. Kamar-kamar tersebut kalau dari luar tidak tampak karena tertutup kelambu.
“ Ooo gitu to maksudnya. Ya sudah mbak, berapa semua? “ kataku mengenai penjelasannya. Sembari membayar uang minuman dan uang tips kepada mbak Santi atas informasinya.
“ Trimakasih mas. Nggak ‘main’ sekalian mas? “ katanya menggoda
“ Nggak, trimakasih. Mari mbak “ pamitku
Dari situ terjawab sudah rasa penasaran tentang temuan esek-esek dipinggir kali dan bawah jembatan tadi sore. Ternyata memang ada. Bahkan masih ada yang main disekitar cungkup. Hmmm, tambah penasaran. Namun ada yang masih mengganjal tentang hal tersebut. Saya masih pengen untuk menggali lebih dalam. Saya pengen ketemu dengan PSK yang biasa ‘main’ ditempat-tempat tersebut. Atau kalau bisa ketemu dengan peziarahnya. Ditambah lagi dengan pengen lebih lanjut menemukan tentang ngeseks dibawah pohon sekitar cungkup. Dan kata mbak Santi biasanya diakar belakang cungkup.
Malam sudah semakin larut di Gunung Kemukus, tamu-tamu yang berkunjung ke makam Pangeran Samudro juga semakin padat. Penjual bunga, jamu kuat, dan air sendang pun ikut sibuk berebut mencari para tamu agar membeli barang dagangannya. Jalan menanjak menuju cungkup makam pun sudah mulai sesak. Hilir mudik peziarah menjejali jalan-jalan menuju komplek makam. Pengunjung harus antri untuk dapat naik keatas. Namun ada juga pengunjung yang memilih jalan yang memutar tetapi agak jauh hanya untuk menghindari kepadatan masa.
Jalan yang memutar tersebut biasanya sedikit gelap, karena memang tidak banyak dilewati dan warung-warung yang buka disepanjang jalan melingkar tersebut hanya terang dibagian warungnya. Tidak sampai menerangi badan jalan. Namun kalau dicermati, justru para PSK yang mangkal di warung-warung tersebut lebih berani dalam berdandan dan berpakaian. Mereka seolah-olah bersaing memamerkan ‘property’ anggota tubuh mereka. Baik dengan menunjukkan pahanya sampai dengan kelihatan celana dalamnya, atau juga dengan mengenakan tank top untuk memperlihatkan belahan dada dan kolam susunya. Ditambah dengan panggilan-panggilan menggoda syahwat dari para PSK yang mangkal tersebut. Namun eksploitasi tubuh-tubuh sintal tersebut semata-mata hanya untuk menarik mata dari pengunjung yang lewat untuk meliriknya. Dan kalau mungkin mengencaninya. Tentu saja tergantung dari transaksi keduanya.
Saya pun tidak ikut ketinggalan ikut-ikutan melingkari jalan yang gelap tersebut. Pemandangan double paha panas dan belahan ‘gunung kembar’ memang disuguhkan dengan cuma-cuma. Membuat suasana malam yang dingin menjadi sedikit lebih hangat karena adrenalin lelakiku ikut-ikutan memicu darah untuk memanas. Akan tetapi bagi pengunjung yang sudah mendapatkan pasangan atau membawa pasangan sebelumnya tentu saja double paha panas dan belahan ‘gunung kembar’ yang di gelar layaknya dagangan dipasar tersebut tidak ngefek sama sekali.
Sampai di dermaga tempat naik turun pengunjung makam (dulu, kalau air sungai meluap atau akrab disebut dengan danau yang mengelilingi Gunung Kemukus, (sekarang nganggur)), saya ketemu dengan seorang PSK yang agak tua, umurnya sekitar 30 tahunan keatas sedang duduk (mangkal) di pos ronda dekat dermaga. Sedikit ragu-ragu saya menghampirinya.
“ Sendirian adja mbak? “ tanyaku membuka suara.
“ Eh, iya ni mas “ jawabnya sedikit kaget dengan kedatanganku yang arahnya dari belakangnya duduk.
“ Mase juga sendiri? Udah nyekar? “ tanyanya balik kepadaku.
“ Belum mbak. Nanti-nanti adja, sekarang masih rame! Nggak keatas ni mbak? “ tanyaku pengen tahu kenapa dia masih disini (bidawah).
“ Aku jarang keatas kok mas, aku sudah dua tahun ini kalau nunggu tamu selalu disini “ jelasnya.
“ Cari pasangan mas? Saya masih kosong kok! ‘main’ murah kok? Buat penglaris aku kasih murah ” ajaknya menggodaku.
“ Masalah ‘main’ gampang, nanti kalau udah nyekar “ kilahku untuk menolak ajakannya.
“ Emang berapaan? “ tanyaku tentang tarifnya sekali ‘main’ sambil melihat badannya.
“ 60 ribu kalau dikamar “ jawabnya singkat.
Pura-pura nggak tahu dan kaget dengan maksud jawabannya, padahal jawaban tersebut hampir menegaskan penasaranku sore tadi. Saya pun menimpali jawabannya dengan membalikkan pertanyaannya.
“ 60 ribu dikamar, maksudnya? “ tanyaku.
“ Yang 10 ribu buat sewa kamar, yang 50 ribu tarifku mas “ jelasnya mengenai harga tubuhnya sekali ‘main’ short time.
“ Kalau dikamar tadi maksudnya gimana mbak? Emang mbaknya juga ‘main’ diluar kamar po? “ tanyaku menjelaskan pertanyaanku yang tadi.
“ Kalau nggak ‘main’ dikamar ya 50 ribu mas “ jawabnya.
“ Terus kalau nggak ‘main’ dikamar, ‘main’ dimana? Tanyaku pengen tahu, padahal sudah tahu.
“ Tergantung tamunya mas. Kadang ada tamu yang nggak mau ‘main’ dikamar, mereka mantepe ‘main’ ditempa terbuka. Ada yang mau di bawah pohon belakang cungkup, ada juga yang dipinggir kali bawah situ “ jelasnya padaku sembari menunjuk kearah bawah yang nota bene adalah semak-semak jagung dan bawah jembatan.
“ Terus ‘maine’ piye (gimana)? “ tanyaku pengen tahu secara rinci sambil menunjuk tempat yang gelap dibawah sana.
“ Ah mase ki lho gayane ra ngert. ‘Maine’ yo biasa adja “ jawabnya sambil menepuk tanganku.
“ Maksudku, telanjang nggak? “ tanyaku dengan lantang.
“ Tergantung tamunya mas. Kalau dibawah pohon belakang cungkup nggak telanjang, kan banyak orang. Kalau di pinggir kali bawah jembatan, atau semak-semak bebas, mau telanjang atau nggak tergantung tamunya. Soale  dibawah (bawah jembatan atau semak-semak) kan gelap ” jelasnya tanpa malu-malu.
“ Kalau aku sebetulnya lebih suka dibawah sono mas, soale lebih bebas, nggak ketahuan temen-temen dan tamu “ jelasnya lagi tanpa ditanya.
“ Terus ‘maine’ piye kalau nggak telanjang? “ tanyaku pengen tahu lebih detail karena jawaban mbaknya yang polos ini hampir menjawab seluruh rasa penasaranku tentang seks ecek-ecek.
“ Mase ki lho, gayane ra ngerti “ jawabnya malu-malu.
“ Gayane piye tho? Akukan bener-bener nggak ngerti “ jawabku mbodoni.
“ Kalau dibawah pohon mas, kan nggak telanjang, aku cuma naikkan rok kalau pake rok. Kalau pake celana yo cuma mlotrokke kathok (menurunkan celana)Kadang akunya njengkeng tamune ngadek neng mburi. Kalau ngak gitu ya aku mlumah ngangkang tamune neng nduwor. Nek ra ngono yo akune dipangku. Lagian wektune to meng sedilit kok. Ra nganti limolas menit. “ jelasnya dengan lugu.
“ Kalau di bawah? “ tanyaku lagi
“ Kalau dibawah bebas mas, mau telanjang apa nggak tergantung selera “ jawabnya dengan ketawa dengan kata-kata seleranya.
“ Kalau di bawah alasnya pake apa mbak? Tanyaku selidik.
“ Kadang ada yang pake alas koran, alas baju, bahkan ada juga yang nggak pake alas mas “ jawabnya sambil nyengenges (ketawa).
“ Hiiiii, gatel dong “ komentarku.
“ Gatel-gatel kan enak mas. Rasanya tambah gimana gitu!? “ kilahnya
“ Hahahaha” tawa kami pun keluar menggelegar secara bersamaan tanpa disengaja.
Setelah ketawa bareng beberapa saat dan mbaknya (PSK) juga menyalakan rokoknya kembali. Karena kebetulan saat itu jarang pengunjung makam (cowok) yang lewat. Yang lewat sudah berpasang-pasangan. Jadi tidak mengganggu aktifitas mangkal mbaknya.
“ ‘Mainnya’ pake kontrasepsi nggak mbak? “ tanyaku mulai berani.
“ Kondom? Aku kelupaan mbawa je mas, jadi nggak pake! “ jawabnya sambil pura-pura buka tasnya.
“ Nggak takut hamil mbak? “ tanyaku lagi.
“ Kan habis ‘main’ langsung dibersihkan mas” jawabnya pede.
“ Bersihkan pake apa? “ tanyaku selidik.
“ Bersihkan pake sabun ini lho mas! “ jawabnya sembari menunjukkan sabun cair khusus wanita yang diambilnya dari dalam tas. Dan menunjukkannya padaku.
“ Caranya? “ tanyaku lagi ingin tahu.
“ Sabunnya buat cawek mas “ jawabnya singkat.
“ Emang bisa bersih mbak sperma yang keluar didalam hanya dengan cawek pake sabun itu? “ tanyaku lagi ingin jawaban yang lebih detail.
“ Ya ngak cuma cawek tok to yo mas. Nggo ngresiki sperma yang masuk kedalam, jariku juga tak masukkin ke dalam (vagina). Karo diuthek-uthek. Kan bersih tho? “ jawabnya sedikit membuatku merinding. Geli.
“ Kalau nggak githu ya sebelum kesini suntik dulu mas! “ jelasnya lagi.
“ Ooo, githu tho “ jawabku singkat karena sudah mulai mrinding dengan jawaban yang vulgar tersebut.
“ Jadi kalau ‘main’ di bawah pohon dan dipinggir kali duitnya utuh masuk kantong pribadi ya mbak? “ tanyaku meredam nuansa libido.
“ Ya jelas mas, lumayan 10 ribu bisa buat beli rokok atau tambah-tambah modal buat bawa pulang. Dari pada dikasihkan buat orang (germo pemilik warung dan kamar). Lagian kalau ada tamu yang ngajak ‘main’ dikamar juga kadang-kadang nggak dapat kamar karena penuh tamu “ jawabnya tarang-terangan.
Jawaban polos mbaknya ini memperjelas kapitalisme atau perputaran uang yang ada di Gunung Kemukus. Bagaimana terlihat dengan jelas uang 10 ribu begitu berharga untuk dapat menambah modal untuk dibawa pulang. Dari pada diserahkan kepada germo pemilik kaar yang hanya duduk diam. Kurang lebih lima belas menitan (short time) dapat uang 10 ribu dari PSK yang menggunakan kamarnya. Dan apabila dikumpulkan tentunya dapat menjadi banyak. Semakin banyak tamu yang menggunakan jasanya tentunya kalkulasi uang yang dikumpulkan juga tidak sedikit. Tidak kebagian kamar memang dilihat menjadi alasan yang masuk akal dengan banyaknya tamu yang berkunjung dan memanfaatkan jasa persewaan kamar demi lancarnya hubungan seks yang mereka lakukan tanpa takut dilihat orang lain adegan ranjang yang dilakukannya. Baik jasa kamar saja maupun kamar plus PSKnya. Disamping alasan tidak dapat kamar tentunya rasa eman-eman terhadap uang yang didapat tentunya menjadi daya yang kuat untuk mempertahankan pendapatan atau penghasilan melacurkan dirinya ditengah ekonomi yang menghimpit. Apalagi bagi yang free alias tidak punya mami (germo). Karena mereka datang ke Kemukus dengan biaya sendiri. Dan punya niat dan keharusan bahwa kalau pulang harus membawa uang lebih dari modal semula.
“ Bener tu mbak, usaha-usaha sendiri ko duitnya dibagi. Hehehehe “ jawabku solah-olah simpati.
“ Eh mbak aku keatas dulu, thanks atas waktunya. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ok? “ pamitku sambil memberikan amplop uang tips untuk beli rokok.
“ Sama-sama mas. Oh, thanks juga amplopnya “ jawabnya sambil menerima dan akan membuka amplopnya sembari tersenyum.
“ Eh mbak, hampir lupa, namanya siapa? Dan dari mana? “ tanyaku balik setelah berdiri.
“ Saya Nanik mas, dari Jember “ jawabnya sembari melambaikan tangan dan kedipan mata genitnya.
Cungkup dimalam hari bagaikan pasar yang baru buka. Bisa dilihat dari banyaknya orang-orang peziarah yang berjejalan pengen masuk makam Pangeran Samudro untuk nyekar dan didoakan oleh juru kuncinya. Banyaknya peziarah menambah ramai suasana malam disana. Ada yang istirahat di sekeliling makam. Ada juga yang di luar makam atau di serambi makam. Dijejali dengan peziarah yang ingin masuk ke nisan Pangeran Samudro. Sehingga nampak suasana yang padat di pendopo makam.
Disisi luar pendopo makam yang digunakan untuk nyekar dan istirahat para peziarah, ada banyak orang yang memadati pintu keluar atau samping-samping pendopo makam. Bahkan di taman luar pendopo juga dipadati pengunjung. Entah berpasang-pasangan, bergerombol atau sendiri. Orang-orang tersebut adalah PSK-PSK yang mangkal. Mereka menunggu dan mencari pasangan kencan yang telah selesai nyekar. Ada yang menunggu langganan kencannya. Ada juga yang mencari pasangan kencan baru. Jadi tidak terlalu susah mencari PSK disekitar cungkup.
Di taman yang mengelilingi makam dan jalan menuju makam juga dipadati oleh manusia. Kebanyakan yang disana adalah orang-orang yang cuma nongkrong bergerombol. Ada juga pedagang yang menjajakan dagangannya. Namun yang paling banyak adalah transaksi seksual yang dilakukan oleh PSK dan pengunjung yang kesana hanya untuk menikmati surganya seksualitas yang ditawarkan di Gunung Kemukus.
Cahaya remang-remang dari sinar rembulan ditambah sinar cahaya lampu yang tertutup rindangnya daun pepohonan yang tumbuh disekitar pendopo cungkup dimalam pekat di Gunung Kemukus menambah suasana mistis dicampur erotis semakin kental. Nuansa erotis lebih terasa karena transaksi yang dilakukan PSK kebanyakan dilakukan dibawah-bawah pohon. Bahkan tidak segan-segan mereka saling bercumbu dan saling meraba bagian tubuh. Tidak ada rasa risih dari pasangan tersebut. Tentu saja, karena hal tersebut wajar karena banyak pasangan-pasangan yang lain juga melakukan hal yang serupa disana. Live show erotis yang disuguhkan disana menjadikan malam yang dingin tidak terasa. Yang terasa adalah ludah yang ditelan dan kolomenjing yang naik turun di kerongkongan. Jadi terasa sedikit hangat badan ini karena melihat pemandangan yang ‘hot’.
Biasanya setelah terjadi deal dari harga transaksi seksnya pasangan-pasangan tersebut lalu menuju kewarung-warung miliki induk semangnya yang didalamnya terdapat kamar-kamar ukuran kecil. Untuk menyalurkan libido yang sudah memuncak. Bersama dengan pasangan yang sudah ditawarnya. Kalau dihitung waktunya, rata-rata yang ngamar tersebut paling lama sekitar lima belas menitan. Jadi bisa dibayangkan, berapa kali PSK tersebut ngeseks dengan tamu-tamu yang mengencaninya dalam satu malam. Hampir seluruh pasangan yang berada dilokasi taman tersebut melakukan hal yang serupa.
Namun ada juga yang tidak menuju kewarung-warung yang ada kamarnya tersebut. Namun tidak banyak. Mereka menuju kebelakang cungkup. Akupun tidak ketinggalan menguntit mereka. Tentu saja tanpa sepengetahuan mereka. Karena merasa heran. “ Lho, kok tidak kekamar. Kok malah kebelakang cungkup. Jangan-jangan mereka!? ” Begitu kata batinku sambil mengingat-ingat kata mbak Santi dan mbak Nanik (PSK yang mangkal dibawah), yang mengatakan ada yang main dibawah pohon sekitar cungkup.
Setelah diamati, ternyata kondisi dibelakang cungkup sangat kontras kondisinya dengan depannya. Dibelakang cungkup sangat gelap karena sinar lampu yang mencoba untuk menerangi taman terhalang oleh rindangnya pepohonan yang tumbuh disitu. Bahkan akar-akar pohon yang besar sampai muncul pada permukaan tanah. Akar-akar pohon tersebut yang dituju oleh pasangan yang tidak ngamar. Mereka duduk-duduk santai sambil ngobrol ngalor ngidul tak jelas. Sembari mengamati sekelilingnya sudah sepi apa belum.
Kalau kondisinya terlalu ramai, mereka hanya terus ngobrol yang nggak jelas. Namun samar-samar telihat dengan jelas bahwa permainan tangan yang menjamah seluruh tubuh sudah mulai berlangsung. Diselingi juga dengan cumbu-cumbuan basah yang mereka lakukan. Sudah membuat ‘burung’ silelaki berdiri. Kalaupun ada yang melihat, mereka nampak tenang-tenang saja. Tidak ada rasa malu atau apalah atas apa yang mereka pertontonkan. Hal itu wajar, karena di Gunung Kemukus seks adalah hal yang biasa bagi siapapun yang ada disana. Eksploitasi tubuh, bahkan sampai dengan permainan ranjang adalah bagaikan makanan sehari-hari bagi masyarakat sana.
Apabila kondisinya sudah memungkinkan, walaupun ada saja yang lewat namun tidak memperhatikan, mereka akan langsung tancap gas memacu adrenalin. Silelaki menurunkan celananya, sedangkan wanitanya juga menurunkan celananya dan langsung njengking didepan lelaki pasangannya. Tanpa menunggu lama ‘burung’ yang sudah manggung tersebut masuk kedalam lubang ‘sangkar’ yang ada didepannya. Seolah-olah berpacu dengan waktu dan keadaan sekitar. Tidak berlangsung lama kejadian tersebut. Entah spermanya keluar didalam ‘sangkar’ atau keluar diluar tidak terlalu jelas karena kondisi yang terlalu gelap. Ditambah dengan tempat pengintaianku yang kira-kira jarahnya sepuluh meter dari pasangan yang sedang memacu adrenalin tersebut.
Sambil membetulkan celananya, lelaki yang terengah-engah karena kelelahan tersebut bersandar dipohon sambil membuka dompet dan mengambil uang bayaran untuk diserahkan kepada wanita PSK yang telah dikencaninya. Entah berapa jumlah yang diberikan. Wanita PSK tersebut juga sedang membersihkan vaginanya. Namun yang mencengangkan adalah, dia membersihkannya hanya dengan menggunakan sepotong kain untuk ngelap ‘barangnya’ tersebut. Kemudian membetulkan pakaiannya sembari menerima uang imbalan dari lelaki yang mengencaninya, dan pergi setelah semuanya selesai meninggalkan lelaki tersebut yang masih tergolek lemas didahan pohon.
Wanita PSK tersebut menuju tempat yang agak terang untuk memebetulkan make up. Kemudian mangkal lagi kedepan cungkup untuk mendapatkan lelaki hidung belang lagi. Ketikaku berbalik arah melihat lelaki yang habis ‘main’ tadi, ternyata dia sudah tidak ditempatnya lagi. Kucoba untuk mencarinya, namun hasilnya nihil. Karena terhalangnya pandangan ditengah gelapnya malam dan tertutupnya cahaya terhalang pepohonan. Apalagi kondisi belakang cungkup pada waktu itu sedikit ramai.
“ Ternyata benar “ gumamku sambil tersenyum membenarkan kata-kata mbak Santi dan Mbak Nanik yang menunjukkanku tentang adanya seks yang dilakukan di sekitar cungkup, lebih tepatnya dibelakang cungkup atau dibawah pohon yang sedikit lebih gelap.
Rasa penasaranku tentang adanya seks ecek-ecek di bawah jembatan, pinggir sungai dan di bawah pohon sekitar cungkup yang ada di Kemukus terjawab sudah. Ternyata hal tersebut memang ada dan lumrah terjadi di sana. Meskipun intensitas peziarah yang melakukan hubungan seks dengan PSK atau dengan sesama peziarah lainnya di tempat-tempat ecek-ecek tersebut relatif sangat kecil namun tetap ada. Dibandingkan dengan seks yang dilakukan dikamar-kamar, seks ecek-ecek ditempat-tempat kayak begini ini bukanlah tandingannya. Ya perbandingannya 100 berbanding 1. Namun dari semua yang telah dibuktikan ini tentunya menambah wawasan tentang adanya bentuk-bentuk ritual seks yang diluar sewajarnya.
Tanpa sengaja salah seorang dari tim melihat seorang gadis belia, cantik dan nyentrik dengan tindikan dihidung lagi ngobrol dengan seorang laki-laki. Tidak begitu jelas apa yang dibicarakan, hanya sedikit yang bisa ditangkap yakni nada penolakan,,setelah bapak-bapak itu pergi dan gadis itu terlihat sendiri, salah satu dari kami mencoba mendekatinya dan diajaknya dia ngobrol :
“mbak, misale aku ngobrol karo sampean piye?”
“ngorol opo mas?”
“yo ngobrol-ngobrol wae, neng ngarepan yo”
Setelah beberapa lama, dan dalam keadaan agak mabuk barulah dia mau diajak kedepan
„neng ngarep warung wae yo..“
”mbak sampeyan wis suwe neng kene?”
“wis suwi piye maksude?”
“ora ngene loh maksudku, aku terus terang wae niatane rene kuwi penelitian skripsi. Lah aku njaluk tulung neng sampeyan nggo wawancara, iki akau najluk tulung neng sampeyan kira-kira gelem ra diwawancarai?”
“emoh aku mas nek wawancara direkam, masalahe aku wedi, yo nek ngobrol-ngobrol wae ra opo-opo.”
“oh yo wes ra opo-opo,  song  lek ganggu sampeyan….”
“Eh ngopoe sampeyan ketoke rodo ra penak awake “
“biasa mas aku lagi “on””
“on piye tho? Tanyanya rada blo’on
“aku lagi make’e”
“oh….sampeyan lagi nggawe narkoba, opo modele? Pil koplo, cimeng, opo….”
“saya pake pil mas”
“sampeyan aslinya mana tho?”
“semarang”
“wes suwi make’ narkoba?”
“sejak kelas 3 SMP mas…”
“Saya kemarin denger dari ibu (germo), katanya disini ada yang bawa (pengedar), katanya barangnya dari semarang. Saya dari rumah Cuma bawa satu, tapi ternyata sampe sini juga gak ada barangnya, hari ini orangnya itu gak dateng ke sini. Yo wis akhirnya saya make barang saya sendiri sambil minum”
“minum apa?”
“bir campur kratingdaeng”
“sampeyan puas gak nggawe ngono iku mau?
“yo puas gak puas masalahe ora ono barange”
“masalahe aku kalo gak make itu gak bisa tidur, gak tenang”
“berarti sampeyan wes kecanduan “
“ya bisa dikatakan begitu”
“sampeyan dari semarang kesini sama siapa-siapa naik apa? “
“sendiri, naik motor “
“dari sana jam berapa mbak?”
„sekitar jam 2-an ya habis sekolah itu „
“oh… berarti sampeyan masih sekolah “
“yo”
“kelas piro?”
‘kelas telu”
‘berarti sampeyan ke kemukus kuwi ngapain?”
”yo memang buat gini ini mas, buat refreshing, saya stress kalau dirumah “
“terus orang tua tau ndak kalo sampeyan kesini?”
“nggak mas”
“alasan sampeyan?”
“ke kondangan”
“o…h ke kondangan…besok kan tanggal merah mbak?berarti tiap liburan     sampeyan ke kemukus.”
“bukan hanya liburan, kadang saya mbolos sekolah”
“trus sampeyan dikemukus ini untuk apa? “
“ya hanya itu mas buat make”
“berarti dikemukus itu ada jaringan narkoba? “
“sebenarnya ada, tapi hari ini orangnya memang gak datang kesini. Jadi aku sulit untuk nyari barang. Jadi aku hari ini Cuma make’ segitu yang kubawa dari semarang sendiri, sambil minum.”
“ceritanya gimana ko’ sampek anda terjun ke dunia narkoba?”
“kelas dua SMP, aku tuch minggat dari rumah ke Jakarta nyari kerja. Disana saya kerja sebagai pembantu, saya ketemu saudara saya disana terus dicarikan kerja jadi pembantu. Sampe’ akhirnya saya mau diperkosa sama majikan saya. Saya bertahan selama 6 bulan. Akhirnya saya lari pulang kerumah dan saya ngelanjutin sekolah saya.”
“tanggapan orang tua anda gimana?”
“ya, namanya juga anak mas, apapun yang terjadi tetep dirawat sama orang tua. Dan ternyata sampai SMA kebiasaan saya merokok, nakal tidak berubah sampek akhirnya saya mencoba memakai narkoba, sampai akhirnya saya kecanduan seperti ini.”
“berarti sampeyan disini gak maen mbak?”
“nggak, ditawar berapapun saya nggak mau, tadi aja yang nawar 50ribu tapi ‘taik’ tak pisui malahan wonge…”
Setelah itu dia pamit ke belakang “sory mas kebelet pipis” kata si gadis mengakhiri percakapan kami. Setelah itu ia tanya-tanya sama seorang ibu (germo) katanya “dia juga maen kok mas”
 “bu kok rodo uraan to? tasih bocah nopo?”
“nggih mas niku tasih bocah, tasih SMA niku mas “
„oh nggih to, niku mben dinten teng mriki bu?“
„nggih mboten mas, nek mriki naming nek rame niku mawon kados suro ngeten niki, kalin jumat pon „
„berarti mboten tetep teng mriki to bu?“
„nggih mboten mas. Alasane isih sekolah bocahe“
„berarti nek jumat kliwon, selasa kliwon mboten mriki bu?“
„mboten mas, lha wong mboten rame, mboten kados jumat pon kaleh suran ngeten niki“
‚oo…tak kiro nyare mriki mbak’e. kagungan kamar pinten bu?“
„naming sekedik kok mas, naming wolung (8) kamar „
‘lumayan niku bu nek rame’ jawabnya menimpali
‘ nggih sitik-sitik ngge tambah-tambah tuku beras’
„nek sekali make entuk jatah pinten bu?“
„nggih tergantung bocahe mas, enten sing nyaosi gangsal (5) ewu, enten seng sedoso (10) ewu, tegantung bocah-bocah.“
„lek mbak’e niku wau “saget” bu? ‚
“nggih lek mriki mesti saget to mas “
“lha mbak’e wau ngendika teng mriki naming ngguang stress, ngombe-ngombe kaliyan nge-drugs “
“nggih biasa niku ngge nutupi, buktine mbak’e mau din yang to skeet (50 ribu) neng ra gelem, cobo ngenyang rong atos ewu (200 ribu) langsung gelem mas “
„biasane standare mase pinten? „
“yo neng nduwur satusan””
“oh…gitu o..”
“nggih maklum mas, tasih SMA to, kan taseh bocah lagi larang-larange
“nduwe anak piro bu?
“aku ra nduwe ‘anak’ buah mas, ora nduwe ‘anak’ mas, meng nggonaku kuwi dadi ujugane bocah-bocah “
“lha biasane do teko jam pinten?”
“nggih awan wau pun do teko mriki, do golek tamu yo neng cungkup, dewe-dewe engko nek wis do dadi (transaksi) langsung do ndene “
“o..gitu, nek tak delok niku wau sing neng kene bocahe tasih enom-enom nggih bu? “
“nggih ngoten niku mas”  tiba-tiba PSK datang ikut nimbrung, pembicaraan pun terhenti.
Awalnya untuk memulai ngobrol dengan penizarah rada-rada kesulitan kerena situasi yang sangat ramai . Namun tak dinyana seorang bapak menghampiri dan langsung mengajak ngobrol
„dari Mana mbak?
„Dari jogja pak, bapaknya dari mana?
„Saya asli sini mbak, Sragen. Ya kemukus sini.
„Oooo…di kemukus sini, rumahnya dimana pak?
„Di bawah situ (sambil menunjuk ke bawah), sudah berapa kali kesini mbak?
„Baru sekali ini pak
„sama siapa
“sama temen pak , oh ya pak, katanya besok rame ya pak?
“ya”, jawabnya singkat sambil mengangguk
“mulainya jam berapa pak?”
“Besok pagi, jam 7, saya juga jadi panitia”
“Ooo… ada kepanitiaannya juga to pak, trus acaranya gimana?
“Larap kelambu, jadi besok itu kelambu makam dibawa kesungai, dicuci, setelah itu dibawa ke atas lagi. Di tempat pembilasan trus di jemur.
“Denger-denger kelambunya itu jadi rebutan, dijual ya pak?
“iya”
“berapa pak biasanya?
“kalo di tempat saya biasanya 20 rb tapi ada yang bayar 100 rb, tapi kalo mbak mau nanti saya kasih, ndak usah bayar.
“lho… bapaknya dapat jatah kelambu to, emang kalo jadi panitia dapet jatah ya pak?
“iya
“biasanya dapet berapa meter pak?
“paling setengah meter mbak, ohya Mbaknya punya usaha apa?
“Enggak kok pak masih sekolah
“lho.. terus kesini mau apa?, Oooo mbaknya pengen dapet pekerjaan to?
“Iya sih pak
“Kalo mbaknya mau, saya bantu, saya juga pernah bantu mahasiswa Jogja, sekarang malah sudah seperti saudara sama saya. Dulu dia juga udah mau lulus terus pengen dapet kerja akhirnya saya bantu. Kalo disini jalan sama saya itu aman mbak, gak ada yang ganggu soalnya orang sini udah tau saya, semua.
“oh ya… maksudnya bantu gimana pak?
“kalo disini kan harus sama pasangan mbak, laki-laki sama perempuan  jadi nanti mbak sama saya,  tapi nanti harus berhubungan seperti suami isteri lho mbak?
“oh gitu to pak, emangnya kenapa ko’ harus melakukan hubungan seperti suami isteri pak, itu wajib ya pak?
“iya, ya emang harus kayak gitu kalo keinginannya mau bener-bener terkabul
“Ooo emang itu syarat yang harus dijalankan ya pak, emang gimana ceritanya ko’ sampe ada syarat seperti itu
“ya….  itu sabdo dari pangeran samodra sendiri bahwa, barang siapa yang punya keinginan maka harus bisa nyonggo wirang pangeran samodra dengan melakukan hubungan suami isteri seperti pangeran samodra dengan nyai ontrowulan, agar keinginannya terkabul, tur nganggo ati seng mantep mbak!
“ooo gitu ya pak ceritanya…
piye mbak’e pun mantep dereng? Nanti biar sama saya aja, kalo baru dateng langsung ketemu orang sini itu berarti pertanda baik lho mbak, berarti jodoh. Berarti mbaknya dapet wahyu
“oh gitu to pak? Kaya’ mukjizat ya pak
“iya mbak.., nanti saya anter mulai dari sendang sampe sini (cungkup) tapi kita harus berhubungan kayak suami isteri, ya nanti mbak anggap saya saudara aja…
‘berarti sewa kamar ya pak? Itu sampe pagi nggak sih pak?
‘ya nggak paling cuma bentar trus keluar duduk-duduk di luar
‘ooo… kirain sampe pagi pak ?
‘ya enggak mbak, tapi kalo mbak mau sampe pagi nanti biar saya yang bayar kamarnya, biasanya kalo saya bawa tamu seperti mbak ini saya kasih temen saya lho mbak, itungannya saya sebenarnya rugi to! Tapi ya saya nggak mau di tempat saya sendiri
‘ooo.. bapak punya warung juga
‘ iya saya sama lek saya disini
„biasanya berapa pak sewa kamar
„tiga puluh ribu, mbak. Saya yang bayar ko’!, biasanya saya ngga’ mau kalau di bayar perempuan  jadi untuk kamar saya yang bayar tapi , kalau misalnya dia bilang, ‘biar saya aja yang bayar’  ya sudah…”.
„lho ko’ bapak yang bayar berarti rugi donk?
„ya gak papa, niat saya kan bantu !, gimana mbaknya mau gak, nanti saya anter liat-liat biar tahu semuanya. Nanti saya bebas tugas jam 12 tapi sampe jam 2 aja, saya harus istirahat buat besok, apa sekarang aja pamit sama temennya mau kebawah sebentar, gimana?
„maaf pak, saya kesini sama teman-teman. Jadi lagi nunggu teman disini. Mungkin besok aja.“ Setelah datang teman kami dan pembicaraan berakhir.
Hari berikutnya ngobrol santai dengan seorang pria, dilakukan di sekitar Sendang Ontrowulan, pada pagi hari, suasana sedikit lengang. Meskipun selalu ada kesulitan untuk memulai pembicaraan tapi akhirnya berhasil melakukan wawancara.
„Baru datang pak?
„Iya. Mba’e sangkeng pundi
„Kulo Jogja, kalo temen saya dari padang pak.
“O. kemaren saya juga dari tempat anak saya di Sumatra juga
“Bapak aslinya mana?
“Saya Boyolali,
“Wah deket dong pak?, kemaren saya juga lewat Boyolali. Kesini sendiri pak, naik apa?
“iya sendiri aja, saya naek motor.
„udah berapa kali pak kesini?
„baru dua kali mbak
„bapak usahanya apa?
„saya gak punya usaha apa-apa, ya kata orang-orang bapak’e deso
“kepala desa ya pak?
“ya bisa dibilang begitu, lho kalo mbak nya ini udah berapa kali kesini?
“baru kok pak kesini, ya Cuma main-main saja, katanya kalo tanggal satu suro rame.
“punya usaha apa?
“saya masih sekolah pak, kuliah.
“mahasiswa to, semester berapa mbak?.
“semester tujuh
“berarti mau selesai ya mbak, udah kkn?
“udah kemarin pas gempa
“ditempat saya kemarin juga ditempati mahasiswa kkn ada juga yang dari jogja, UGM itu lho.
“UGM to!, ohya pak2 bapak tau kemukus dari siapa?
“saya suka baca peta itu lho mbak, ya tau dari peta. Sebenarnya saya malu ke sini takut ketahuan sama orang-orang desa
“teman-temannya ada yang kesini gak pak
“gak ada, nanti kalo ada saya malah malu wong saya tadi pamit sama ibu’e mau main-main mumpung libur, tapi ya sudah menyelasaikan tugas-tugas, surat-surat semua sudah beres.
“hari ini libur ya pak, nanti langsung pulang apa nginep pak?
“wah, saya kalo kesini ini gak pernah nginep mbak, wong saya punya tanggung jawab di masyarakat jadi gak boleh lama-lama ninggalin rumah. Dulu pertama kesini saya naik mobil sama sopir saya, tapi sekarang ya naik motor aja
“trus nanti pulang jam berapa pak?
“ya nanti paling sore setelah selesai dari atas
“awalnya kesini karena apa pak, kan biasanya orang-orang kesini punya keinginan biar terkabul,
“awalnya dulu saya itu dicalonkan jadi kepala desa ya terus saya kesini, dan alhamdulillah saya lolos pemilihan
“berarti bapak merasakan ada perubahan setelah dari sini, makanya kesini lagi ya pak?
“ya begitulah, saya kan sebagai kepala desa jadi punya tanggung jawab besar di masyarakat ya… biar semuanya lancar-lancar aja, bukan begitu mbak?
“iya pak.., udah keatas pak, katanya sekarang rame, ada upacara larap kelambu
“belum, ya ini baru dateng, nanti bareng aja sama saya keatasnya
“oh ya nanti bareng-bareng
“mau ke warung gak mbak, sama saya?
“makasih pak, saya sudah makan, baru aja makan trus kesini ini.
Akhirnya karena ditolak maka pak Kusmin pindah ke tempat duduk yang lain
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: