Beranda » Tak Berkategori » Abu Lanang “Ngajarin Kambing Berenang”

Abu Lanang “Ngajarin Kambing Berenang”

Arsip

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.226 pengikut lainnya

Ngajarin Kambing Berenang

Alkisah..

Seorang dokter berkunjung ke rumah pasiennya untuk memeriksa..

Pasien : ‘Gimana keadaan saya sekarang dok..??’

Dokter : ‘Mm.. Baik, tapi mulai sekarang, hindari makan daging kambing dulu ya, biar gak kambuh lagi. Kalo mau makan daging, makan daging hewan2 yang bisa berenang atau terbang aja, seperti ikan, bebek atau burung’.

Pasien : ‘hemm.. Ya dok..’

* Beberapa hari kemudian.. Sang dokter berkunjung lagi ke rumah pasiennya. Tapi dokter tsb terheran2..

Dokter : ‘Loh, kamu sedang apa..?? Ko berenang sama kambing..??’

Pasien : ‘Ini dok, kan dokter bilang saya hanya boleh makan daging binatang yang berenang atau terbang.. Nah, sekarang saya lagi ajarin kambing berenang, biar saya bisa makan daging kambing..’

Dokter : ‘tuink..tuink..’ (pingsan)

====

Cerita di atas hanyalah fiktif, dan harap tidak mencobanya dirumah ya Dan kisah tsb bisa kita analogikan kebanyak hal.. Dan dari kisah ini pula, ada yang ingin kita sampaikan..

Lihatlah pasien di atas.. Agar dia bisa memenuhi hawa nafsunya makan daging kambing, maka dia berusaha mengajari dan memaksakan kambingnya agar bisa berenang supaya dia bisa memenuhi selera dan keinginannya.. Yakni makan daging kambing sepuasnya.. Padahal itu akan membuat sakitnya bertambah parah (kambuh).

Nah.. Pasien tersebut layaknya seorang yang ngeyel terhadap kebenaran.. Ketika ada seorang yang menjelaskan suatu yang haq dari dalil berdasarkan pemahaman para sahabat dan para salaf.. Maka orang tersebut memaksakan dalil hingga ‘memelintirnya’ agar sesuai dgn keinginan dan hawa nafsunya..

Kita ambil contoh sederhana :

Ketika kita nasehatkan agar kalo berdo’an dan minta sesuatu, berdo’a dan mintalah hanya pada Allah, jangan pada yang lain.. Tentu semua akan bilang YA, sambil ngangguk tanda setuju..

Namun ternyata.. Ada saja sebagian saudara kita yang masih berdo’a dan minta pada selain Allah, berdo’a atau minta pada kuburan misalnya..

Dan jika ditegur : “Kok antum minta pada kuburan sih..??”

Biasanya akan disanggah : “Ana gak minta pada kuburan kok.. Ana cuma menjadikan (penghuni) kuburan ini sebagai sarana aja, biar nyampek dan terkabul permintaan ana pada Allah..” [1]

Lalu ia pun menjelaskan (baca : memelintir) berbagai macem dalil2nya, se-akan2 amalannya itu mmg bener2 ada dalilnya..

Akhii wa Ukhtii.. Kalo amalan tsb mmg bener2 ada dalilnya.. Tentu Rasulullah, para sahabat, dan para salaf lah yang lebih duluan mengamalkan hal tsb.. Karena mereka lah yang paling tahu ttg agama ini.. Ya nggak..??

Oleh karena itu.. Rasulullah tidak pernah mensunnahkan atau memerintahkan ummatnya untuk melakukan hal tersebut..

Selain itu.. Beliau juga tidak pernah membimbing ummatnya berbuat demikian, baik dalam bentuk nash maupun melalui isyarat. Dan perbuatan itu juga tidak pernah dinukil dari sahabat..

Contoh lagi :

Ketika kita sampaikan hadits shahih : “..Bid’ah itu se buruk2 perkara.. Semua bid’ah itu sesat..”

Maka pasti akan langsung di bantah dengan gegap gempita.. Misalnya dengan berkilah : “Tapi kalo ana teliti dari ‘kacamata’ balaghah, hadits tsb maksudnya ‘sebagian’ kok, tidak ‘setiap / semua’.. “

Atau disanggah : “Tapi kata kyai saya yang mahir nahwu sorof, bid’ah itu ada yang hasanah lho..”

SubhanAllah.. Se-akan2 mereka lebih pinter dibanding para shahabat dalam memahami Qur’an wa sunnah.. Bukankah para shahabat semisal Ibnu Umar dan Abdullah bin Mas’ud juga memahami bahwa bid’ah itu buruk dan semuanya sesat ?

Ada juga yang berkilah : “Ah, ente kan cuma tahu makna dzohirnya doang.. Tapi ente gak tahu hakekatnya..” bla bla bla dst..

Apakah mereka ini lebih hebat dan lebih paham dari pada Rasulullah, para sahabat, dan para salaf ttg agama ini..??

Akhii wa Ukhtii.. Para sahabat adalah orang yang paling sholeh, paling ta’at, dan paling mengerti tentang Islam daripada kita semua, bahkan Allah ridha kepada mereka sehingga dijanjikan surga..

Mereka semua tidak melakukan amalan2 bid’ah semisalminta atau menjadikan kuburan sebagai sarana do’a, kirim pahala, tahlilan, maulid, dan amalan2 tanpa tuntunan lainnya..

Dan mereka pun tak ada yang membantah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sabdakan : “..semua bid’ah itu sesat..” Bahkan justru mendakwahkan bahwa semua bid’ah itu sesat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam..

Sedangkan kita..?? Kita yang ke Islamannya belum dijamin surga : Lha kok malah lancang me-nambah2 tatacara ibadah, latah mengamalkan bid’ah, dan hadits shahih pun dibantah.. Seakan-akan kita lebih hebat daripada mereka..

Selalu ingatlah.. Tidak ada pemahaman yang paling lurus dan paling baik selain para sahabat dan para salaf.. Dan barang siapa mengikuti pemahaman mereka maka akan selamat..

Jadi.. Masih mau ngajarin kambing berenang..??

Wallahul Musta’an.KAMBING

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: