Beranda » Kuliah Ekonomi Manajemen » Contoh Makalah Matematika

Contoh Makalah Matematika

Arsip

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.227 pengikut lainnya

Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Pada kesempatan kali ini saya berbagi makalah tentang“Hubungan Antara Kemampuan Pemahaman Matematika Terhadap Prestasi Belajar

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan usaha untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran dan atau latihan di masa yang akan datang. Untuk itu gerak langkah harus selalu mengarah pada perbaikan mutu pendidikan. Perbaikan mutu pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas produk pendidikan, di mana pelaksanaannya tidak terlepas dari upaya peningkatan mutu proses pendidikan termasuk dalam hal ini pendidikan matematika.
Matematika adalah salah satu bidang studi yang diberikan kepada siswa semenjak duduk di Pendidikan Sekolah Dasar (SD). Dan pendidikan matematika pada jenjang dasar mengutamakan keterampilan berhitung dan hafalan, sedangkan pendidikan pada jenjang menengah ditekankan pada penalaran, pemikiran logis dan rasional.
Di samping itu juga pengajaran matematika di sekolah lanjutan bertujuan agar siswa dapat memahami pengertian–pengertian matematika maksudnya kemampuan keterampilan dalam mempelajari matematika, bukanlah hanya menghafal yang merupakan proses mekanis tetapi keterampilan yang merupakan penerapan dari pengertian yang ada. Kebanyakan siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit sehingga minat belajar matematika menjadi kurang. Karena kurangnya minat belajar matematika mengakibatkan Prestasi Belajarmatematika menjadi kurang memuaskan. Disadari atau tidak, matematika sangat besar peranannya dalam kehidupan sehari–hari.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu sebagai berikut:
• Apakah ada hubungan yang positif antara minat belajar matematika dengan Prestasi Belajarmatematika?
• Apakah ada hubungan positif antara kemampuan pemahaman dengan Prestasi Belajarmatematika?

C. PEMBAHASAN

Dalam proses kegiatan mengajar, setiap siswa dituntut untuk mempunyai hasil yang baik dalam berbagai bidang mata pelajaran. Salah satunya adalah matematika, karena tidak dapat dipungkiri bahwa matematika sebagai salah satu ilmu dasar. Mata pelajaran matematika saat ini semakin dirasakan interaksinya dengan bidang-bidang ilmu lain seperti ekonomi, teknologi dan rekayasa. Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: 1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika), 2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan 3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal) dalam (Sudrajat, 2008).
Hasil penelitian Masykur dan Fathani (2007), mengungkapkan bahwa pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional pada tahun 1999 masih tergolong sangat rendah.
Prestasi Belajar matematika merupakan hasil yang diperoleh siswa selama mengikuti proses belajar mengajar matematika yang berupa pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan matematikanya (Astuti, 2008). Prestasi Belajar tersebut ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru dalam kurun waktu tertentu. Melalui prestasi belajar ini siswa diharapkan mampu mengembangkan Kemampuan Pemahaman Matematika dalam akademik.
Ketika anak didik dihadapkan kepada beban pendidikan yang terlalu banyak dan pencapaian yang terlalu tinggi dikarenakan lingkungan yang sangat kompetitif, sistem pendidikan dan lingkungan tidak memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan Kemampuan Pemahaman Matematika anak didik secara matang dan positif di sekolah, semua itu merupakan masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar di sekolah (Aikesari, 2008). Sedangkan individu yang mempunyai kemampuan pemahaman positif akan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri lebih baik, dapat mempengaruhi situasi dan dapat menunjukkan kemampuan yang dimiliki dengan lebih baik sehingga dapat menghindarkan diri dari reaksi psikis negatif.

Mereka dapat mempengaruhi situasi dan dapat mempergunakan keterampilan yang dimiliki dengan lebih baik (Tarmidi, 2008).

Salah satu jenjang pendidikan formal yang terdapat dalam sistem pendidikan nasional adalah sekolah menengah pertama (SMP). Siswa SMP umumnya berusia 12-15 tahun dan tergolong dalam periode remaja. Pemilihan subjek pada usia remaja ini didasarkan pada tahap dimana remaja mengalami gejolak fisik dan psikologis sebagai akibat dari perkembangan seluruh aspek kepribadiannya. Perubahan fisik ditandai dengan perubahan proporsi tubuh dan organ-organ tubuh tertentu, terutama organ seksual. Sementara perubahan psikologis meliputi perubahan cara berpikir, peran sosial, emosi yang menjadi kurang stabil, dan sebagainya (Dariyo, 2002). Menurut Erikson (1996), tahap remaja yang dimulai pada usia 13-14 tahun merupakan tahap yang menentukan pembentukan identitas, sehingga pada masa ini menjadi masa ”krisis identitas”, yang berarti masa dimana suatu manusia untuk pertama kalinya secara definitive harus menentukan apakah dan siapakah dia pada masa depan.
Di sekolah, anak selalu dihadapkan pada situasi penilaian keberhasilan, baik dari guru maupun dari siswa lain. Situasi penilaian yang dihadapi siswa bukan hanya penilaian selama ulangan atau ujian saja, tetapi juga dari keberhasilan siswa dalam melaksanakan seluruh tugas sekolah. Sepanjang waktu sekolah, siswa dapat menilai dirinya sendiri maupun siswa lain dengan cara melihat bagaimana ia atau siswa lain menyelesaikan tugas yang diberikan.
Menurut Glasser (Tarmidi, 2008) dalam bukunya school without failure, mengemukakan bahwa sesungguhnya seluruh aspek kehidupan dalam masyarakat selalu merupakan dikotomi antara ”gagal dan berhasil”. Konsep yang gagal dan berhasil ini dijadikan sandaran dalam menilai pelaksanaan tugas, serta dalam menyusun sikap atau pandangan terhadap kemampuan yang dimiliki. Situasi ketika siswa melaksanakan seluruh tugas dengan bersandar pada keberhasilan dan kegagalan pada masa lampau, harus dimanfaatkan guru untuk membimbing siswa agar selalu berusaha mencapai keberhasilan. Bimbingan tersebut dapat berupa pemberian gambaran positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai siswa.
Gambaran positif ini dilakukan dengan memperlihatkan hasil belajar siswa dari waktu ke waktu secara lengkap, sehingga siswa memperoleh gambaran kemajuannya selama jangka waktu tertentu. Selain itu, guru juga harus membantu siswa agar sadar bahwa keberhasilan yang dicapai tergantung kemampuan dan usahanya, bukan karena faktor kebetulan atau keberuntungan saja.
Pada umumnya, sistem nilai yang ditekankan dalam dunia pendidikan adalah pencapaian prestasi belajar. Prestasi belajar ini selanjutnya dijadikan patokan perilaku yang harus dicapai siswa. Penetapan prestasi belajar sebagai patokan perilaku, membuat guru selalu berusaha agar siswa mencapai patokan tersebut, dan tidak semua siswa berhasil mencapai prestasi belajar yang ditetapkan.
Siswa yang berhasil mencapai prestasi belajar yang ditetapkan (kesuksesan), akan dipandang sebagai siswa yang mempunyai kemampuan dan usaha yang tinggi oleh guru dan siswa-siswa lain. Sebaliknya, siswa yang tidak berhasil (gagal) mencapai prestasi yang telah ditetapkan akan dipandang sebagai siswa yang tidak/kurang mempunyai kemampuan dan usaha. Penilaian yang diberikan oleh guru maupun pandangan siswa lain merupakan tanggapan yang sangat mempengaruhi konsep diri siswa (Aikesari, 2008). Fits (dalam Pudjijogyanti, 1995) mengatakan bahwa sesungguhnya konsep diri merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam proses pendidikan dan hubungan timbal balik antara konsep diri dengan prestasi belajar akan tampak apabila dilakukan pengukuran terhadap konsep diri ”spesifik”, yaitu konsep diri akademik.

Untuk menjelaskan adanya hubungan yang erat antara kemampuan pemahaman dengan prestasi belajar, Fink (dalam pudjijogyanti, 1995) melakukan penelitian yang menghubungkan konsep diri dengan hasil prestasi yang kurang.

Dalam penelitian ini, Fink menggunakan 20 pasang siswa laki-laki dan 24 pasang siswa perempuan. Siswa-siswa tersebut dipasangkan berdasarkan tingkat intelegensi mereka. Di samping itu, mereka digolongkan berdasarkan prestasi belajar mereka menjadi kelompok berprestasi lebih (overachiever) dan berprestasi kurang (underachiever). Seluruh siswa diminta melengkapi skala citra diri, dan hasilnya dinilai oleh tiga orang psikolog. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan konsep diri antara siswa yang tergolong overachiever dan underachiever. Siswa yang tergolong overachiever menunjukkan konsep diri yang lebih positif, dan hubungan yang erat antara kemampuan pemahaman dan prestasi belajar tampak jelas pada siswa laki-laki.

Berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari sebuah studi, Burns (1993)

melaporkan bahwa orang-orang yang berprestasi akademis yang rendah melihat diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang kurang mampu dalam akademik dibandingkan dengan orang-orang lainnya. Orang-orang yang berprestasi rendah cenderung untuk mengekspresikan lebih banyak perasaan diri yang negatif dibandingkan yang berprestasi tinggi.Penelitian Brookover, Thomas dan Patterson (dalam Burns, 1993) menguji perbedaan konsep diri siswa laki-laki dan perempuan terhadap prestasi belajar di bidang bidang tertentu. Berdasarkan kajian ini dilaporkan bahwa kemampuan pemahan siswa laki-laki berhubungan dengan prestasi dibidang matematika. Sedangkan konsep diri siswa perempuan berhubungan dengan prestasi dibidang ilmu-ilmu sosial.

D. KESIMPULAN dan SARAN
1. Kesimpulan
Silahkan baca dengan lengkap pada pokok pembahasan dan simpulkan menurut anda masing-masing (hehehee)

2. Saran
Saran saya “ISI KESIMPULAN DIATAS MENURUT PEMIKIRAN ANDA MASING-MASING”

Daftar Pustaka

1. Arikunto, Suhartini. 1993. Dasar – dasar Evaluasi Pengajaran. Jakarata ; Rhineka Cipta ………, 2002 Prosedue Penelitian. Jakarta; Rhineka Cipta.

2. Soleh, Mohamad. 1998. Pokok-pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta; Depdikbud.

3. Sudjana, 1992. Metode Statistika. Bandung ; Tarsito.

4. Rusefensi. ET 1980. Penajaran Matematika Modern, Bandung ; tarsito.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: